Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mas Pri Hidupkan Seni Lukis di Kayong Utara Meski Terbentur Kendala

Danang Prasetyo • Kamis, 22 Januari 2026 | 14:54 WIB
KARYA : Supriyono atau yang akrab disapa Mas Pri sambil menunjukan hasil karya lukisannya.
KARYA : Supriyono atau yang akrab disapa Mas Pri sambil menunjukan hasil karya lukisannya.

PONTIANAK POST - Di tengah keterbatasan dan minimnya perhatian terhadap seni lukis, Supriyono atau yang akrab disapa Mas Pri, tetap setia pada dunia yang telah ia cintai sejak kecil. ‎Dari bangku sekolah dasar, kuas dan cat sudah menjadi bagian dari hidupnya, meski perjalanan itu tidak pernah mudah.

‎Mas Pri belajar melukis secara otodidak. Tidak ada bangku pendidikan seni yang pernah ia duduki, hanya ketekunan dan rasa suka yang terus ia pelihara hingga kini.

‎Ketertarikan pada dunia gambar tumbuh sejak usia dini, namun seiring waktu, berbagai kendala mulai ia hadapi, mulai dari keterbatasan biaya hingga sulitnya menjual karya.

‎"Belajar melukis itu sejak SD, tidak ada pendidikan formal. Dari dulu memang sudah suka, cuma banyak kendalanya, mulai dari beli cat sampai tidak adanya pembeli," ujarnya lirih.

‎Kegiatan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Kabupaten Kayong Utara, Mas Pri membawa sebuah lukisan yang ia lukis sendiri.  ‎Lukisan itu menggambarkan suasana kebersamaan sebuah keluarga atau warga yang duduk di bawah saung di kebun durian.

‎Api unggun menyala di depan mereka, menghangatkan malam, sementara alunan alat musik senggayong mengiringi waktu menunggu durian jatuh atau gugur dari pohonnya.  ‎Suasana tenang, akrab, dan penuh kebersamaan tergambar jelas dalam setiap sapuan warna.

‎"Kalau untuk lukisan yang saya lukis ini, karena pada kegiatan GSMS, kita sesuaikan dengan tema yang di anjurkan, istilahnya sedang menunggu durian sambil bermain alat musik senggayong," jelasnya. 

‎Mas Pri menjelaskan bahwa dalam kegiatan GSMS tersebut ia melukis sekitar lima karya, dengan waktu pengerjaan kurang lebih dua minggu hingga seluruh lukisan selesai. ‎Dalam perjalanan berkaryanya, Mas Pri sempat merantau dan melukis di beberapa daerah seperti Bali dan Papua. ‎Namun aktivitas melukis tersebut lebih banyak dilakukan sebagai pekerjaan sambilan karena hasilnya belum bisa mencukupi kebutuhan hidup.

‎Menurutnya, tantangan terbesar pelukis di kayong Utara adalah minimnya bimbingan dan komunitas seni. Kondisi itu membuat para pelukis berjalan sendiri tanpa arah yang jelas.

‎"Di sini belum ada komunitas, belum ada bimbingan khusus. Jadi kami masih liar-liar saja," katanya.

‎Mas Pri juga mengaku sempat beberapa kali mengikuti pameran seni. Namun, kurangnya tindak lanjut dan perhatian membuat semangatnya perlahan menurun.

‎"Sudah pernah pameran, sudah ditandai-tandai, tapi faktanya tidak ada kelanjutannya. Jadi buat pesimis saya," ungkapnya.

‎Selama ini, karya lukis di atas kanvas belum memberikan hasil secara komersial. Untuk bertahan, Mas Pri lebih sering mengerjakan mural di sekolah-sekolah dasar. Ia mematok harga sekitar Rp350 ribu per meter, termasuk biaya cat.

‎"Mural-mural di SD itu yang ada hasilnya. Kalau lukisan kan lebih ke senang-senang saja," jelasnya.

‎Saat ini, Mas Pri tinggal di Desa Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Perantau asal Demak, Jawa Tengah ini mengandalkan usaha kecil dan pekerjaan mural untuk menghidupi keluarganya.

‎Meski belum mendapatkan perhatian yang memadai, Mas Pri tetap berharap seni lukis mendapat ruang dan dukungan lebih besar, agar pelaku seni lokal bisa terus berkarya dan hidup layak dari hasil kreativitasnya. (dan)

Editor : Hanif
#Dukungan #kayong utara #komunitas seni #seni indonesia #kalimantan barat #pelukis lokal #Seni lukis #Seni Kreatif