PONTIANAK POST - Warga di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mengeluhkan aliran air ke rumah-rumah yang dinilai tidak berjalan normal meski meteran air telah dipasang dan tagihan tetap muncul setiap bulan. Pemasangan meteran air di sejumlah rumah warga diketahui mulai dilakukan sekitar Desember 2025.
Kebijakan tersebut juga diikuti dengan kewajiban pembayaran retribusi air yang telah diatur dalam peraturan daerah (Perda). Namun, keberadaan meteran yang semula diharapkan dapat membuat pendistribusian air menjadi lebih baik justru memunculkan keluhan di masyarakat.
Warga menilai pasokan air masih sering tidak mengalir, bahkan mereka harus menggunakan mesin penyedot agar air bisa keluar dari pipa.
Ironisnya, saat mesin penyedot digunakan, air kerap tidak keluar, tetapi meteran tetap berputar, kondisi ini yang kemudian memicu keluhan masyarakat karena mereka tetap dikenakan tagihan meskipun air yang diterima tidak sesuai harapan.
Salah seorang warga Desa Pangkala Buton, Desi mengatakan air sering kali tidak mengalir meskipun sudah menggunakan mesin penyedot air.
"Ini air tidak mengalir, padahal kita sudah pakai mesin sedot. Di meterannya tetap mutar padahal yang keluar angin," ujarnya.
Selain itu, ia juga mengeluhkan tagihan yang tetap tercatat setiap bulan meskipun air jarang mengalir ke rumahnya.
Desi meminta pihak terkait segera memperbaiki sistem distribusi air, ia menilai sebelum pemasangan meteran air dilakukan, aliran air ke rumahnya tidak pernah mengalami masalah seperti saat ini.
"Tagihan setiap bulan ada terus di catatan. Tolong pihak terkait ini diperbaiki, atau kita kembalikan saja meterannya. Soalnya sebelumnya air tidak pernah bermasalah," katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan Kepala Dusun Simpang Empat, Desa Pangkalan Buton, Andi yang mengatakan sebagian besar warga di wilayahnya mulai menyampaikan keluhan sejak meteran air dipasang di rumah-rumah masyarakat.
Menurutnya, warga tetap melakukan pembayaran setiap bulan meskipun pasokan air yang diterima tidak selalu lancar. Kondisi ini membuat masyarakat merasa dirugikan karena selain membayar tagihan air, mereka juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengoperasikan mesin penyedot air.
"Saya menyampaikan keluhan masyarakat, ada sekitar 70 persen warga mengeluhkan air yang jarang mengalir, tetapi masyarakat selalu melakukan pembayaran setiap bulan," kata Andi.
Ia menambahkan, nominal tagihan yang dibayar warga bervariasi, bahkan ada yang mencapai Rp 400 ribu per bulan. Dengan adanya kondisi tersebut warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air.
Selain membayar tagihan air setiap bulan, sebagian warga juga terpaksa menggunakan mesin penyedot agar air dapat keluar dari pipa, yang tentunya membutuhkan biaya listrik tambahan.
"Nominal yang dibayar bervariasi, bahkan ada yang mencapai Rp 400 ribu per bulan. Selain membayar air, warga juga harus membayar listrik karena harus menyedot air dengan mesin. Jadi warga harus dua kali pengeluaran setiap bulan," ucapnya.
Warga berharap pihak terkait dapat segera mengevaluasi sistem distribusi air tersebut agar pasokan air ke rumah-rumah masyarakat dapat berjalan normal sesuai harapan saat pemasangan meteran diberlakukan. (dan)
Editor : Hanif