PONTIANAK POST - Pemilik Toko Pertanian Al-Hijrah di Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mengeluhkan kenaikan harga pupuk dan herbisida yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pemilik toko, Denes, mengatakan hampir seluruh jenis pupuk dan racun mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Bahkan, menurutnya, beberapa produk mengalami lonjakan hingga mendekati 50 persen.
"Kenaikannya cukup drastis. Pupuk naik, racun juga naik, hampir semuanya mengalami peningkatan kurang lebih 50 persen," ujar Denes kemarin.
Baca Juga: Distribusi BBM Subsidi Dievaluasi, Pemkab Kayong Utara Fokus pada Nelayan dan UMKM
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh terganggunya distribusi sejak kelangkaan BBM serta kenaikan nilai tukar dolar yang berdampak pada harga barang.
"Semenjak minyak langka, kemudian ditambah dolar naik, harga pupuk dan racun ikut melonjak," katanya.
Denes menjelaskan, harga pupuk urea yang sebelumnya sekitar Rp 400 ribu per karung ukuran 50 kilogram kini mencapai Rp 700 ribu per karung. Sementara itu, pupuk NPK 13-6-27 naik dari sekitar Rp400 ribu menjadi Rp 585 ribu per karung.
Kemudian, pupuk NPK 16-16-16 yang sebelumnya dijual sekitar Rp 750 ribu kini berada di kisaran Rp 970 ribuan per karung. Tak hanya itu, pupuk dolomit juga mengalami kenaikan harga dari sebelumnya sekitar Rp 80 ribu hingga Rp90 ribu menjadi Rp 100 ribu per karung.
Baca Juga: Pemkab Kayong Utara dan BPS Sosialisasikan Sensus Ekonomi 2026 Melalui Kegiatan Fun Walk
Untuk herbisida atau racun gulma, Denes menyebut harga juga mengalami kenaikan sekitar Rp 10 ribu per liter. Denes pun berharap harga seluruh kebutuhan pertanian dan perkebunan dapat kembali normal sehingga tidak semakin membebani para petani dan pekebun.
"Harapan kami, semua kebutuhan pertanian dan perkebunan bisa kembali normal, harganya bisa lebih murah lagi. Semoga nilai dolar cepat turun dan rupiah kembali stabil agar perekonomian di tingkat bawah bisa berjalan normal," harapnya.
Menurutnya, tingginya harga Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) akan sangat berdampak terhadap petani, terutama mereka yang memiliki skala usaha kecil.
"Kasihan para petani. Kalau saprodi pertanian dan perkebunan mahal, yang paling merasakan dampaknya adalah petani dan pekebun kecil karena biaya produksi mereka ikut meningkat," pungkas Denes. (dan)
Editor : Miftakhair