PONTIANAK POST - Musim durian di Desa Gunung Sembilan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, tahun ini bukan musim biasa.
Panen melimpah, pasar meluas hingga lintas kabupaten dan yang lebih menarik, sebagian warga tidak lagi puas hanya menjual buahnya mentah-mentah.
Dari dapur-dapur rumahan di desa ini, durian kini bertransformasi menjadi dodol dan aneka produk olahan lain yang menawarkan nilai jual jauh lebih tinggi dibanding buah segarnya.
Baca Juga: Durian Gunung Sembilan Tembus Pasar Ketapang, Panen Melimpah Bawa Berkah bagi Petani Kayong Utara
Panen Berlimpah, Pikiran Berkembang
Tahun ini hasil kebun durian warga Desa Gunung Sembilan benar-benar melimpah. Buah segar dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu, hingga Rp15 ribu per buah, dan pasarnya tidak hanya berhenti di wilayah setempat. Sebagian dikirim hingga ke Kabupaten Ketapang dan Singkawang.
“Tahun ini benar-benar melimpah hasilnya. Ini ada yang jual ke Ketapang, Singkawang juga ada. Tentunya dengan harga yang bervariasi,” ungkap Toni, salah satu warga.
Tapi di balik ramainya penjualan buah segar, ada gerakan yang lebih menarik untuk diamati. Sebagian petani dan pedagang mulai mengolah durian menjadi produk makanan.
Dodol durian menjadi andalan, produk yang tidak hanya tahan lebih lama dari buah segar, tapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas dan margin yang lebih tebal.
Baca Juga: Pesona Durian Jemongko: Dari Singkawang ke Pontianak Demi Menyantap Durian
Nilai Tambah yang Masih Bisa Dimaksimalkan
Langkah mengolah durian menjadi produk jadi bukan sekadar kreativitas musiman. Ia adalah respons logis terhadap satu tantangan klasik petani buah.
Ketika panen melimpah, harga buah segar cenderung jatuh karena pasokan membanjiri pasar dalam waktu bersamaan.
Produk olahan seperti dodol memutus ketergantungan pada fluktuasi harga musiman itu. Dodol durian bisa disimpan, dikirim lebih jauh, dijual lebih lama dan dihargai lebih tinggi per kilogramnya dibanding buah mentah.
Kabupaten Kayong Utara sendiri bukan pemain baru di sektor ini. Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil durian di Kalimantan Barat, dengan Kecamatan Sukadana sebagai salah satu titik produksi utamanya.
Potensi bahan baku tidak pernah menjadi masalah, yang kini mulai bergerak adalah kemauan untuk naik kelas dari sekadar penjual buah menjadi produsen produk.
Langkah Kecil dengan Potensi Besar
Yang terjadi di Desa Gunung Sembilan adalah benih dari sesuatu yang lebih besar. Ia adalah hilirisasi skala desa.
Baca Juga: Tak Perlu Ruang Rapat, Dua Gubernur Kalimantan Pilih Meja Durian untuk Bicara Kerja Sama
Bukan dengan mesin industri atau modal besar, melainkan dengan dapur rumahan, resep warisan turun temurun, dan kemauan untuk berpikir lebih jauh dari sekadar musim panen.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah durian Gunung Sembilan berkualitas. Pasar Ketapang dan Singkawang sudah menjawab itu.
Pertanyaannya adalah seberapa jauh produk olahannya bisa menjangkau pasar yang lebih luas, dan siapa yang akan membantu petani-petani ini naik ke level berikutnya.
Musim durian memang hanya datang setahun sekali. Tapi nilai tambah dari pengolahannya bisa bertahan sepanjang tahun. (*)
Editor : Miftahul Khair