PONTIANAK POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kayong Utara menilai tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini tergolong tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau yang datang lebih cepat dan diperkirakan berlangsung lebih lama.
Kepala Pelaksana BPBD Kayong Utara, Fathul Bahri, mengatakan sejumlah wilayah yang menjadi perhatian dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla meliputi Kecamatan Pulau Maya, Kecamatan Simpang Hilir, dan Kecamatan Sukadana.
Ia menjelaskan, peningkatan titik panas mulai terpantau sejak 4 Juni 2026 di Desa Pemangkat, Desa Satai Lestari, dan Desa Mata-Mata.
"Titik panas mulai meningkat sejak 4 Juni di Desa Pemangkat, Desa Satai Lestari, dan Desa Mata-Mata," katanya, Minggu (12/7).
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, sebagian besar lokasi kebakaran berada di kawasan yang berdekatan dengan lahan perkebunan milik warga.
"Kalau melihat kondisi di lapangan, penyebab kebakaran kemungkinan besar dipicu aktivitas pembukaan lahan. Sebab, lokasi kebakaran hampir selalu berdampingan dengan kebun milik warga," ujar Fathul.
Menurutnya, potensi kebakaran masih akan terus ada selama musim kemarau berlangsung.
Untuk menekan risiko karhutla, BPBD bersama sejumlah instansi terus memperkuat upaya pencegahan melalui patroli darat dan patroli udara.
"Saat ini kami terus melakukan patroli darat dan patroli udara sebagai upaya pencegahan. Bahkan, dalam empat hari terakhir telah dilaksanakan operasi pemadaman melalui jalur darat serta water bombing (WB)," jelasnya.
Fathul menambahkan, penanganan karhutla di Kabupaten Kayong Utara dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai instansi dan unsur masyarakat.
"Penanganan ini melibatkan BNPB, BPBD Provinsi Kalimantan Barat, BPBD Kabupaten Kayong Utara, Manggala Agni, KPH, LPHD, Polri, TNI, serta masyarakat agar kebakaran tidak meluas," tutupnya. (dan)
Editor : Miftakhair