PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kayong Utara terus meluas. Tiga rumah dilaporkan tak dapat diselamatkan dari amukan sijago merah di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana. Anggota DPRD Kabupaten Kayong Utara, Kamiriluddin turut prihatin atas musibah yang melanda. Terlebih kejadian itu telah mengorbankan sejumlah rumah warga. Termasuk puluhan hektar kebun masyarakat. Tak ketinggalan hewan tenak kambing yang lemas dan mengalami kematian akibat asap yang pekat.
“Siang tadi (Kemarin ) ada dua rumah yang tak dapat diselamatkan karena kobaran api yang sulit diatasi. Beberapa hari sebelumnya juga ada satu rumah terbakar di TR 4,” ungkap Kamiriluddin, Senin (20/07).
Dikatakan Ketua Kosgoro Kayong Utara ini, tiga rumah yang terbakar berada di pemukiman transmigrasi Semanai, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana. Tak hanya tiga rumah yang hangus dan rata dengan tanah, terdapat pula puluhan hektar kebun masyarakat ludes. Termasuk hewan ternak seperti kambing yang terkapar dan mati karena kelemasan akibat asap yang begitu pekat.
“Untungnya ada helikopter memberikan bantuan dengan melakukan water bombing atau pengeboman air. Kalau tidak, bisa lebih banyak lagi rumah hunian masyarakat sekitar yang tak dapat diselamatkan karena ganasnya kobaran api,” terang anggota Komisi I daerah pemilihan (Dapil) 1 Kecamatan Sukadana.
Diakui legislator Partai Golkar ini, kebakaran yang melanda wilayah kecamatan Sukadana tepatnya di desa Simpang Tiga dan Desa Riam Berasap Jaya berlangsung sudah hampir dua pekan. Namun api hingga saat ini terus menyala. Semula, kata dia, api muncul dari lahan kosong hingga akhirnya meluas ke areal kebun masyarakat hingga ke pemukiman perumahan.
Sejak awal kebakaran terjadi, disampaikan Kamiriluddin, helikopter setiap hari melakukan pengeboman airguna melakukan pemadaman. Selain itu, tampak pula pemadam api dari BPBD Kabupaten Kayong Utara. Pun begitu, api tetap saja sulit dipadamkan karena memang sebagian besar di wilayah itu merupakan lahan gambut.
Sejauh ini, diakuinya, lahan pemukiman transmigrasi Semanai sangat rentan terjadinya kebakaran. Bahkan menurut Kamiriluddin, kebakaran ini bukan kali pertama. Bahkan, diakuinya, kebakaran kali ini termasuk lebih besar dari sebelumnya. Selain lokasi gambut sehingga api sulit dipadamkan, diakui Kamiriluddin juga, bahwasanya di wilayah itu kalau musim panas seperti saat sekarang akan sulit mendapatkan air sehingga ini menjadi faktor utama petugas pemadaman di lapangan.
Kedepan, Kamiriluddin meminta kepada Pemkab Kayong Utara melalui dinas terkait untuk melakukan pekerjaan normalisasi parit di pemukiman transmigrasi Semanai. Sebab, ia melihat kalau parit yang ada di wilayah tersebut hampir semuanya dangkal, semak dan tersumbat. Alhasil, parit kering hingga sulit menemukan air. (dan)
Editor : Miftakhair