PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, hingga kini masih terus membara. Sejumlah petugas gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta para relawan terus berjibaku di tengah terik matahari dan kepungan asap pekat demi memadamkan kobaran api yang terus meluas.
Akses menuju lokasi kebakaran yang sulit serta ketersediaan sumber air yang mulai menipis menjadi tantangan utama tim di lapangan. Vegetasi gambut yang kering disertai terpaan angin kencang membuat kobaran api cepat merambat dan memicu munculnya titik-titik api baru. Petugas harus mengulur selang hingga ratusan meter dan memanfaatkan mesin pompa air portabel untuk menjangkau pusat kebakaran.
Dampak buruk dari karhutla ini mulai mengancam kesehatan dan melumpuhkan roda kehidupan masyarakat sekitar. Kabut asap tebal tak hanya membendung sinar matahari, tetapi juga menurunkan kualitas udara hingga ke tingkat yang tidak sehat. Jarak pandang yang terbatas turut mengganggu lalu lintas darat dan aktivitas perekonomian warga. Keluhan dan kekhawatiran pun disampaikan oleh warga setempat. Budi, seorang warga Sukadana, mengungkapkan betapa sulitnya menjalani aktivitas harian di tengah kualitas udara yang kian memburuk. Menurutnya, bau menyengat dari material yang terbakar sudah mulai masuk hingga ke dalam rumah-rumah penduduk.
Baca Juga: 362 Titik Panas Terdeteksi di Kalbar, Petugas Fokus Tangani Karhutla Ketapang dan Kayong Utara
"Asapnya makin hari makin tebal dan pedih di mata. Anak-anak dan orang tua sudah mulai batuk-batuk. Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, kesehatan warga benar-benar terancam," kata Budi saat ditemui di sekitar lokasi pemukiman.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih bersiaga dan terus meluncurkan upaya pemadaman serta pendinginan (cooling down) di area terdampak guna mencegah api semakin mendekati kawasan permukiman warga. (dan)
Editor : Miftahul Khair