Water Bombing Karhutla di Kayong Utara Tak Bisa Terbang, Kabut Asap Ganggu Keselamatan

Danang Prasetyo • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 11:54 WIB
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, khususnya wilayah Bukit Peramas, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, khususnya wilayah Bukit Peramas, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

PONTIANAK POST - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, khususnya wilayah Bukit Peramas, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, masih menemui jalan buntu. Helikopter water bombing belum bisa diterjunkan ke titik api akibat terbatasnya jarak pandang akibat kepungan kabut asap tebal.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengungkapkan kendala tersebut saat meninjau wilayah titik api di Kabupaten Kayong Utara pada Senin, (21/9). Ia menjelaskan bahwa ketebalan kabut asap sangat membahayakan keselamatan penerbangan, terlebih lokasi kebakaran berada di area berbukit.

Saat ini, Provinsi Kalimantan Barat menyiagakan dua unit helikopter water bombing dari yang sebelumnya tiga unit, setelah satu unit dialihkan untuk membantu penanganan karhutla di kawasan Bromo.
Baca Juga: Prabowo Pesan Armada Water Bombing, Jumlah dan Jadwal Kedatangan Belum Diungkap

"Yang pertama water bombing, nah kita ini ada tadinya tiga water bombing ya, yang satu kebetulan membantu di Bromo, kebakaran di Bromo, jadi kita tinggal dua," kata Ria Norsan.

Satu unit helikopter kini ditempatkan di Ketapang guna mengover wilayah Ketapang dan Kayong Utara. Sementara satu unit lainnya disiagakan di Pontianak untuk bergerak dinamis ke daerah yang membutuhkan penanganan darurat.

"Yang satu kita standby-kan di Ketapang, yang satu ada di Pontianak, yang untuk manuver di mana-mana gitu, misalnya di Sintang atau di Kapuas Hulu," ujarnya.

Namun, armada yang siaga di Ketapang belum dapat bekerja optimal selama beberapa hari terakhir. Kombinasi kabut asap pekat dan kontur tanah yang berbukit di Bukit Peramas membuat pilot tidak berani mengambil risiko untuk melakukan manuver penyiraman. Norsan menambahkan, tingkat kesulitan akan berbeda jika kebakaran terjadi di lahan berkarakteristik datar, di mana helikopter masih memiliki ruang gerak yang lebih aman meskipun jarak pandang terbatas.

Baca Juga: Helikopter Water Bombing Hanya Buru Api Kecil di Lahan Gambut, Pemadaman Darat Tetap Utama

"Kabutnya terlalu tebal, apalagi yang akan dipadamkan di Bukit Pramas, sehingga untuk manuvernya itu agak terganggu dengan bukit tadi. Kalau tadi daerah datar mungkin dia masih bisa berani," katanya.

Atas alasan keselamatan penerbangan, penyiraman udara di Bukit Peramas dihentikan sementara waktu. Misi water bombing baru akan dilanjutkan begitu jarak pandang membaik dan cuaca memungkinkan helikopter meluncurkan operasi pemadaman secara aman.

"Sehingga dia beberapa hari ini mungkin dia tidak operasional dulu, nanti mungkin kalau jarak pandang sudah agak sedikit bagus, dia akan operasional lagi, ini water bombing kita," pungkasnya. (dan)

Editor : Miftahul Khair
Bukit Peramas water bombing kayong utara karhutla kabut asap