Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Khidmat HMI Untuk Masa Depan Peradaban Selamat Milad Himpunan Mahasiswa Islam

Misbahul Munir S • Senin, 6 Februari 2023 | 13:46 WIB
RATA: Inilah kondisi puing-puing rumah betang Dipan Nipan Bolong, Desa Nanga Nyabau, Kecamatan Putussibau Utara yang dilaporkan terbakar pada Minggu (19/7) malam lalu. ISTIMEWA
RATA: Inilah kondisi puing-puing rumah betang Dipan Nipan Bolong, Desa Nanga Nyabau, Kecamatan Putussibau Utara yang dilaporkan terbakar pada Minggu (19/7) malam lalu. ISTIMEWA
HARI ini, 5 Februari 2023, diperingati sebagai hari kelahiran atau milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sejumlah literatur menyebut, organisasi mahasiswa tersebut berdiri di Yogyakarta pada 5 Februari 1947. Di peringatan usianya yang ke-76 tahun ini, HMI mengangkat tema: Khidmat HMI untuk Masa Depan Peradaban.

Dari situs organisasi.co.id, diceritakan bahwa jauh sebelum HMI terbentuk, pada 1946 telah lahir dulu suatu perkumpulan mahasiswa dengan nama Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY). Motor dari perkumpulan itu merupakan gabungan dari Sekolah Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI), dan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada (sekarang UGM).

Namun struktur organisasi tersebut dianggap tidak cukup memiliki komitmen untuk dapat menyuarakan aspirasi dari para mahasiswa nya. Akibatnya, para mahasiswa ingin mendirikan perkumpulan baru yang tidak ada hubungannya dengan PMY. Adapun aspirasi mereka adalah menginginkan suatu organisasi mahasiswa yang berlandaskan keislaman.

Akhirnya pada 5 Februari 1947 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terbentuk. Organisasi tersebut berdiri atas prakarsa Lafran Pane dan 14 orang rekannya, yang merupakan mahasiswa STI saat itu. Empatbelas orang tersebut yakni Karnoto Zarkasyi (Ambarawa), Dahlan Husein (Palembang), Maisaroh Hilal (Singapura), Suwali, Yusdi Ghozali (PII-Semarang), Mansyur, Siti Zainah (Palembang), M. Anwar (Malang), Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi (Malang), dan Baidron Hadi (Yogyakarta). Lafran Pane kemudian ditunjuk sebagai ketua, sementara 14 rekannya sebagai wakil ketua.

 

Photo
Photo
Logo Milad HMI

Setelah mendapatkan dukungan, Lafran Pane akhirnya mengadakan pertemuan dengan mahasiswa Islam perguruan tinggi di Yogyakarta. Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk membahas rencana pendirian organisasi baru, November 1946. Namun rapat besar tersebut berakhir dengan kegagalan dan tidak menghasilkan keputusan apapun. Kegagalan pertemuan tersebut karena terjadinya perseteruan dua kubu yang hadir, yaitu PMY dan Pemuda Islam Indonesia. Lafran Pane akhirnya mengadakan pertemuan kembali pada 5 Februari di STI, dengan agenda pembentukan organisasi Islam yang memang sudah menjadi tujuannya semula. Gerak cepat Lafran Pane untuk membuat HMI bukan tanpa alasan. Saat itu dia melihat, masih banyak mahasiswa Islam yang belum memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar. Penyebabnya adalah masih banyaknya metode pendidikan yang tertular oleh ajaran komunis dan sosialis.

Dalam perjalanannya, organisasi mahasiswa ini memberikan kontribusi yang cukup besar sejak kali pertama berdiri. Terlihat dari pemikiran dan idealismenya yang tinggi dalam mewujudkan apa yang menjadi visi dan misi organisasi. Salah satu niatnya yang mulia adalah mempertahankan republik  dan mengangkat derajat Bangsa Indonesia. Saat itu negara ini masih berada dalam tekanan Belanda, dan situasi umat Islam juga sedang mengalami stagnasi.

Photo
Photo
Abdul Muiz
Ketua Badko HMI Kalbar

Dalam perjalanannya, organisasi mahasiswa ini memberikan kontribusi yang cukup besar sejak kali pertama berdiri. Terlihat dari pemikiran dan idealismenya yang tinggi dalam mewujudkan apa yang menjadi visi dan misi organisasi. Salah satu niatnya yang mulia adalah mempertahankan republik  dan mengangkat derajat Bangsa Indonesia. Saat itu negara ini masih berada dalam tekanan Belanda, dan situasi umat Islam juga sedang mengalami stagnasi.

Dari situs hmikomhukumuh.wordpress.com, selama lebih kurang sembilan bulan HMI berdiri, 30 November 1947, reaksi-reaksi atas kelahiran HMI mulai berakhir. Selama masa itu HMI berusaha mengatasi dan menjawab berbagai hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang dapat dikatakan datang setiap saat. Kemampuan HMI menjawab hal itu dapat dilihat dari eksistensi HMI terus berdiri tegak dan mulai terlihat kokoh.

Kemudian sepanjang 1947 – 1949 dapat disebut sebagi fase perjuangan bersenjata. Disebut demikian karena sesuai tujuan didirikannya HMI, maka konsekuensinya pada masa perang kemerdekaan adalah HMI tidak boleh tinggal diam. HMI harus turun ke medan laga untuk bertempur melawan pihak agresor. HMI mengambil bagian perjuangan dengan cara membantu pemerintah baik sebagai staf, penerangan dan penghubung maupun sebagai prajurit tempur di lapangan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh HMI pada pemberontakkan PKI Madiun pada 18 September 1948. Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro selaku Ketua PPMI membentuk korps mahasiswa untuk membantu pemerintah menumpas pemberontakkan PKI di Madiun. Korps mahasiswa yang dipimpin oleh Hartono dan Ahmad Tirtosudiro mengerahkan anggotanya ke gunung-gunung, memperkuat aparat pemerintah. Keberadaan mereka perlu ditegaskan karena dari perannya itulah kemudian PKI menaruh dendam terhadap HMI di kemudian hari, seperti terbukti pada 1964 – 1965 menjelang meletusnya peristiwa G30S/PKI.

Periode sepanjang 1950 – 1963 dapat disebut sebagai fase pertumbuhan dan perkembangan HMI. Disebut demikian karena selama keterlibatan kader-kader HMI dalam arena pertempuran melawan agresi Belanda, dapat dikatakan pembinaan organisasi HMI sangat terabaikan. Namun peristiwa penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949 membuat kader-kader HMI yang tadinya melaksanakan tugas-tugas keagamaan dan kebangsaan di medan perang, kembali melanjutkan kuliahnya di kampus masing-masing. Konsolidasi internal organisasi mulai dilaksanakan pada 1950 yang ditandai oleh peristiwa pemindahan PB HMI dari Yogyakarta ke Jakarta pada Juli 1951.

Periode tahun 1964 – 1965 dapat dikatakan sebagai fase yang penuh tantangan bagi kader-kader HMI. Disebut demikian karena dendam PKI kepada HMI mulai menemukan ruang setelah agitasi-agitasinya berhasil membubarkan Masyumi dan GPII. PKI dan para simpatisannya yang menganggap HMI sebagai kekuatan ketiga umat Islam membuatnya sangat bersemangat membubarkan HMI. Dendam PKI dan para simpatisannya tidak hanya membuat HMI dan kader-kadernya mendapat fitnah akibat hasutan dan propaganda, tapi juga menjadi korban penculikan. Kerugian materil dan moril HMI baru berhenti setelah pemerintah menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang sejak peristiwa pada 30 September 1965.

Periode 1966 – 1968 dapat disebut sebagai fase kebangkitan HMI dan pelopor Orde Baru. Disebut demikian karena HMI yang sangat sadar akan kegagalan Orde Lama berperan serta dalam mempelopori lahirnya Orde Baru. HMI melalui Wakil Ketua PB HMI, Mari’ie Muhammad, memprakarsai terbentuknya Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) pada 25 Oktober 1965. Ada dua tugas pokok yang dilakukan mereka yaitu mengamankan Pancasila serta memperkuat bantuan kepada ABRI dalam penumpasan Gestapu/ PKI. Aksi massa KAMI yang mulai membuat Orde Lama berang adalah Rapat Umum pada 3 November 1965 di halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba Jakarta. Kemudian puncaknya pada 10 Januari 1966, KAMI mengajukan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura), yaitu menuntut penguasa dan harga turun, serta PKI dibubarkan. Rezim anti-Orde Lama yang tidak menerima tuntutan itu akhirnya melakukan tindakan represif yang menyebabkan meninggalnya sejumlah mahasiswa, seperti Arif Rahman Hakim (UI) dan Zubaidah di Jakarta, Aris Munandar dan Margono di Yogyakarta, Hasannudin di Banjarmasin, Muhammad Syarif al-Kadri di Makasar. Namun gugurnya pahlawan-pahlawan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) itulah yang kemudian menjadi jalan licin bagi kelahiran Orde Baru yang ditandai oleh keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (Supersemar).

Periode 1969 – 1970 dapat disebut sebagi fase pembangunan. Disebut fase pembangunan karena setelah Orde Baru dan Pancasila diterima, kader-kader HMI telah melibatkan diri dalam pembangunan sesuai Rencana Pembangunan Lima Tahun I (Repelita I) yang dimulai pada 1 April 1969. HMI dan kader-kadernya berpartisipasi dalam pembangunan dalam dua bentuk, yaitu turut serta menciptakan suasana, situasi, dan iklim yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan; serta memberikan konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran; dan pelaksana pembangunan.

Dalam Struktur Pimpinan HMI, Pengurus Besar (PB) adalah badan/insatansi kepemimpinan tertinggi organisasi. Saat ini, PB HMI diketuai Raihan Ariatama untuk periode 2021 – 2023. Mahasiswa pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta itu terpilih dalam Kongres HMI XXXI di Surabaya, 25 Maret 2021. Raihan resmi melantik pengurus PB HMI masa bakti 2021 – 2023 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 25 April 2021.

Dalam strukturnya, di bawah Pengurus Besar terdapat Badan Koordinasi (Badko). Badko sendiri sebagaimana disebutkan dalam Anggaran Rumah Tangga HMI adalah badan pembantu Pengurus Besar. Mereka dibentuk untuk mengoordinir beberapa Cabang. Di seluruh Indonesia, terdapat 20 Badko, salah satunya Kalimantan Barat (Kalbar). Saat ini Badko HMI Badan Koordinasi (Badko) HMI Kalbar diketuai Abdul Muiz. Dia terpilih dalam Musyawarah Daerah (Musda) X dan Musdakoh V, yang dilaksanakan di Wisma Chandramidi Mempawah, 27 – 29 Agustus 2021. Muiz saat itu terpilih sebagai Calon Formatur Ketum Badko HMI Kalbar periode 2021 – 2023. Kepengurusannya dikukuhkan oleh Ketua PB HMI, Raihan Ariatama, padaa 16 Oktober 2021, di Pendopo Gubernur Kalbar, dengan disaksikan Gubernur Kalbar Sutarmidji.

Photo
Photo
Nafi'i
Ketua HMI Cab. Pontianak

Photo
Photo
Anita Sukma Aryanti
Ketua HMI Cab. Mempawah

Photo
Photo
Firdaus
Ketua HMI Cab. Sambas

Photo
Photo
Devi Astarina
Ketua HMI Cab. Sintang

Photo
Photo
Darmawan
Ketua HMI Cab. Ketapang

Photo
Photo
Purwanto
Ketua HMI Cab. Singkawang

Badko HMI Kalbar sendiri mengoordinir enam kepengurusan cabang. Cabang-cabang tersebut yakni Kota Pontianak, Kabupaten Mempawah, Kabupaten Sambas, Kabupaten Sintang, Kabupaten Ketapang, dan Kota Singkawang. Masing-masing cabang ini membawahi sejumlah komisariat persiapan seperti Kota Pontianak yang membawahi Komisariat Persiapan Kabupaten Sintang serta Kabupaten Sintang yang membawahi Komisariat Persiapan Kabupaten Kapuas Hulu. (berbagai sumber) Editor : Misbahul Munir S
#peradaban #masa depan #stt #Selamat Milad #Khidmat HMI