Sandy yang tinggal di Kutisari, Surabaya Selatan, mengenang perkenalan dengan satwa bernama latin Dracaena guianensis itu sekitar dua tahun lalu. Dia menebus Hell Boy yang saat itu seukuran jari jempol tersebut belasan juta. ”Sekarang sudah sekitar 1 meter,” ujar penghobi reptil itu. Sementara itu, Pixie didapatkan saat berusia setahun. ”Dia sempat ikut kompetisi, (menang) Grand Champion,” imbuh dia.
Penampilan kadal caiman yang eksotislah yang membuat Sandy jatuh hati. Kadal caiman punya bentuk kepala seperti tegu. Gradasi oranye hingga merah gelap pada bagian kepala itu juga jadi keunikan tersendiri bagi kadal caiman. ”Biasanya, yang jantan punya warna lebih jreng,” lanjutnya.
Sementara itu, bagian badan hingga ekor dia mirip dengan caiman. Kulit pada tubuhnya, terutama ekor, ada yang menonjol bahkan seperti duri tumpul. Sekadar tambahan informasi, caiman itu sejenis buaya, tetapi lebih dekat dengan aligator karena bentuk rahang yang lebih lebar dan tak lancip. Kalangan awam mungkin mengira reptil semiakuatik itu masih ”sekeluarga” dengan buaya. Apalagi, melihat posturnya yang besar dan punya kulit seperti caiman.
”Kadal caiman ini masuk famili teiid, masih ’sekeluarga’ dengan tegu. Cuma penampilannya yang seperti buaya,” kata Sandy.
Selain soal postur, Sandy tertarik memelihara kadal caiman karena terbilang mudah beradaptasi. Kadal caiman yang berasal dari Amerika Selatan itu juga tidak agresif bila sudah dipelihara dengan baik. Kunci adaptasi kadal caiman ada pada saat masih anakan.
Di bawah usia setahun, tingkat stres terbilang tinggi. Kalau ada suara atau orang asing mendekat ke kandangnya, mereka langsung bersembunyi. Tidak jarang, mereka juga menunjukkan perangai defensif. Misalnya, membuka mulut lebar-lebar hingga menyabetkan ekor. ”Kena sabetan ekornya lumayan sakit karena keras dan kuat banget,” kata Sandy.
Pembiasaan pun harus dimulai perlahan. Caranya, meletakkan (atau menyuapkan) pakan di lokasi tertentu yang kerap dilalui orang. Dengan demikian, mereka bisa nyaman. Makanan asli mereka adalah keong. Namun, Sandy juga biasa memberikan potongan kecil ikan dan tikus putih.
”Agar tidak ribet menyiapkan dan membersihkan, saya pakai daging keong beku dan kalsium,” lanjutnya.
Yang perlu diingat, kadal caiman juga suka berjemur seperti reptil pada umumnya. “Pagi–siang, lalu sore, lampu UV wajib menyala. Tujuannya, membantu pencernaan mereka,” lanjut pria yang juga menggemari cupang itu. Sistem filter air juga harus baik agar kualitas air tetap baik. Dengan demikian, kalau ada luka karena cakar atau ganti kulit, itu tidak memunculkan infeksi.
Baca Juga:
Prairie Dog, Anjing Padang Rumput, Sang Pengerat yang Menggonggong
Sandy menjelaskan, kadal caiman amat berpotensi menjadi peliharaan kesayangan. Jinak, mudah beradaptasi, dan cerdas. ”Selama kebutuhannya terpenuhi, mereka bisa bertahan hidup lama kok,” ungkapnya. Saking cintanya, Sandy tengah bersiap menjadi breeder kadal caiman.
—
TIP MEMELIHARA KADAL CAIMAN
– Agar tak agresif, pemilik tak ”memainkan” pakan kadal caiman. Misalnya, mengayunkan pakan dan tak langsung memberikan pakan meski sudah dipancing.
– Kikir cakar kadal caiman agar tak melukai saat digendong. Jika cakar tumbuh melengkung dan tajam, potong sedikit bagian yang melengkung, lalu kikir.
– Pilih dahan yang kokoh untuk titik basking atau berjemur kadal. Lebarnya harus sesuai ukuran perutnya agar ia bisa nangkring dengan nyaman. Gunakan lampu khusus reptil yang fokus di satu titik dan dipasang timer, agar basking optimal
Saksikan video menarik berikut ini: Editor : Administrator