Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kenali Gejala Autism Spectrum Disorder (ASD) pada Anak Sejak Dini

Miftahul Khair • Jumat, 22 November 2024 | 11:06 WIB

 

Ilustrasi anak.
Ilustrasi anak.

PONTIANAK - Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie ingatkan orang tua untuk kenali gejala Autism Spectrum Disorder (ASD) pada anak.

Fisioterapis, Deni Dwi Yulianti mengatakan ASD merupakan  suatu kondisi perkembangan neuropsikologis yang mempengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta memproses informasi dari lingkungannya.

Penyebab ASD tidak diketahui secara pasti, namun beberapa faktor berkontribusi terhadap kejadian ASD, seperti faktor genetik, faktor lingkungan, dan perkembangan otak seseorang.

“Gejala ASD meliputi kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi, seperti sulit memahami isyarat sosial, kesulitan membangun interaksi dengan orang lain, sulit mengekspresikan diri secara verbal atau non verbal, dan memiliki minat yang lebih sedikit pada komunikais timbal balik,” jelasnya.

Dia juga menambahkan gejala ASD lainnya yaitu pola perilaku yang berulang atau minat yang terbatas, seperti melakukan perilaku yang berulang, ketertarikan yang sangat intens terhadap benda tertentu, kesulitan dengan perubahan rutinitas atau lingkungan baru, dan respon sensorik yang tidak biasa, seperti hipersensitivitas terhadap suara atau cahaya.

"Penanganan Fisioterapi yg tepat juga dapat membantu menstimulasi perkembangan pada gangguan motorik dan sensorik, kognitif serta prilaku pada ASD melalui tehnik relaksasi, stretching otot, penguatan otot-otot postural dan keseimbangan serta sensori integrasi," ungkapnya.

“Waspada dan Segeralah konsultasikan ke dokter apabila anak-anak mengalami gejala tidak babbling, tidak berbicara, dan tidak ada interaksi sosial, terjadi kemunduruan atau kehilangan fungsi bicara, perilaku dan interaksi sosial sebelum dua tahun,” ungkapnya.

Selain ASD, masyarakat juga diingatkan untuk waspada  penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yakni kondisi paru-paru yang menurun fungsinya secara bertahap.

Dokter Nihayatus Solikhah mengatakan PPOK mencakup dua kondisi utama yaitu bronkitis kronis dan emfisema, yang keduanya mengganggu aliran udara ke paru-paru.

Menurutnya, penyebab utama PPOK adalah merokok, namun paparan polusi udara, debu dan faktor genetik juga dapat mempengaruhi dan meningkatkan risiko.

“Gejala PPOK meliputi batuk kronis, sesak napas dan produksi dahak berlebihan serta kelelahan yang tidak biasa. Apabila ditemui gejala tersebut untuk segera periksa ke dokter untuk melakukan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat," jelasnya.

Pada beberapa kasus, gejala PPOK sering dianggap sebagai tanda penuaan atau kebiasaan merokok, sehingga banyak orang terlambat untuk mencari pengobatan.

Dokter Nihayatus menambahkan, diagnosis PPOK dapat dilakukan melalui pemeriksaan klinis, tes fungsi paru (spirometri) serta pemeriksaan lanjutan seperti foto rontgen dada atau CT scan untuk menilai kerusakan paru-paru.

"Meskipun PPOK sulit disembuhkan, pengobatan yang tepat dapat membantu mengontrol gejala, memperlambat perkembangan penyakit, dan meningkatkan kualitas hidup," lanjutnya.

Beberapa pilihan pengobatan yang umum digunakan seperti penggunaan obat bronkodilator untuk membuka saluran pernapasan, Kortikosteroid untuk mengurangi peradangan, terapi oksigen bagi pasien dengan gangguan pernapasan berat, dan rehabilitasi paru.

“Mari mulai dari sekarang lakukan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko terkena PPOK dengan berhenti merokok, hindari paparan polusi udara, lindungi diri dari debu dan zat berbahaya di tempat kerja, rutin pemeriksaan kesehatan, pakai masker, dan mengkonsumsi makanan yang bergizi,” katanya. (mrd)

Editor : Miftahul Khair
#ASD #autism #anak #gejala