PONTIANAK POST - Banyak orang mengira gangguan asam lambung hanya muncul karena pola makan yang tidak sehat. Misalnya terlalu sering makan pedas, berlemak, atau minum kopi berlebihan.
Padahal, faktor psikologis seperti stres, cemas, dan terlalu banyak pikiran juga terbukti bisa memicu dan memperburuk gejalanya.
Beberapa penelitian medis dari lembaga kesehatan internasional menunjukkan bahwa tubuh memiliki reaksi fisik yang nyata saat berada di bawah tekanan emosional.
Salah satunya adalah meningkatnya risiko refluks asam, bahkan pada orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat masalah lambung.
Karena itu, memahami hubungan antara stres dan asam lambung sangat penting agar kita bisa mengantisipasi gejala sejak dini.
Apa Itu Asam Lambung dan Mengapa Bisa Naik?
Asam lambung merupakan cairan alami yang diproduksi tubuh untuk membantu mencerna makanan.
Masalah terjadi ketika cairan ini naik ke kerongkongan, kondisi yang dikenal sebagai acid reflux.
Bila berlangsung terus-menerus, hal ini bisa berkembang menjadi GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Gejalanya meliputi:
- Rasa panas atau terbakar di dada (heartburn)
- Mulut terasa asam atau pahit
- Perut kembung dan terasa penuh
- Sulit tidur atau tidak nyaman setelah makan, terutama saat berbaring
Bagaimana Stres Mempengaruhi Asam Lambung?
Dilansir dari Medical News Today, stres dan kecemasan dapat mempengaruhi cara kerja katup otot yang memisahkan lambung dengan kerongkongan.
Katup ini seharusnya menutup rapat setelah makanan masuk ke lambung agar cairan asam tidak naik kembali.
Namun, saat seseorang berada dalam kondisi stres berkepanjangan, fungsi katup melemah sehingga cairan lambung lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan.
Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan gejala seperti rasa panas di dada atau mulut terasa asam.
Menurut Harvard Health, stres bukan hanya memicu perubahan hormon, tetapi juga dapat memperlambat proses pencernaan secara keseluruhan.
Saat tubuh berada dalam tekanan, aliran darah lebih banyak dialihkan ke otot sebagai respon “fight or flight”, sehingga fungsi pencernaan bekerja lebih lambat.
Akibatnya, makanan bertahan lebih lama di lambung dan produksi asam meningkat, yang membuat risiko refluks semakin tinggi meskipun pola makan sudah cukup baik.
Sementara itu, Healthline menekankan bahwa stres dapat memperbesar sensitivitas tubuh terhadap rasa sakit.
Dengan kata lain, meskipun jumlah cairan asam yang naik tidak banyak, penderita bisa merasakan nyeri, perih, atau ketidaknyamanan lebih hebat dibanding biasanya.
Sensasi ini sering kali membuat penderita merasa gejala lebih parah dari kenyataannya, sehingga menambah rasa cemas yang akhirnya memperburuk kondisi.
Hubungan antara Stres dan GERD
Beberapa penelitian menemukan bahwa stres dan penyakit refluks asam memiliki hubungan timbal balik.
Stres dapat memperparah gejala gangguan ini, sementara penderita gangguan lambung kronis yang sering kambuh justru lebih mudah mengalami kecemasan.
Lingkaran ini bisa menjadi masalah berkepanjangan, karena semakin sering gejala muncul, semakin tinggi pula tingkat stres penderita.
Cara Mengendalikan Stres agar Asam Lambung Tidak Kambuh
Ada beberapa langkah praktis yang dapat membantu menurunkan risiko asam lambung akibat stres, antara lain:
- Mengatur pola makan dengan hindari makan berlebihan, pilih porsi kecil tetapi sering, dan batasi makanan berlemak, pedas, serta minuman berkafein atau bersoda.
- Mengelola stres dengan teknik relaksasi melalui meditasi, yoga, atau sekadar latihan pernapasan dalam terbukti membantu menenangkan pikiran.
- Olahraga ringan seperti jalan kaki atau bersepeda membantu mengurangi ketegangan mental sekaligus menyehatkan sistem pencernaan.
- Tidur cukup sebab kualitas tidur yang baik menjaga keseimbangan hormon dan mengurangi risiko naiknya.
- Konsultasi ke dokter bila gejala sering muncul atau semakin berat, pemeriksaan medis diperlukan agar mendapat diagnosis dan penanganan yang sesuai.
Gangguan asam lambung tidak semata-mata dipicu oleh makanan. Stres, kecemasan, dan beban pikiran yang berlebihan juga memiliki peran besar dalam memicu maupun memperparah gejala.
Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan memperhatikan pola makan sehat.
Dengan kombinasi gaya hidup seimbang, pengelolaan stres, dan perawatan medis bila diperlukan, risiko bisa dikendalikan sejak awal. (*)
Editor : Miftahul Khair