Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kecanduan Scrolling Bisa Merusak Otak Lebih Serius daripada Alkohol. Cari Tahu Efek dan Cara Mengatasinya di Sini!

Fifi Avrillya Irananda • Rabu, 10 September 2025 | 18:00 WIB
Kecanduan scrolling media sosial ternyata lebih berbahaya dari kecanduan alkohol.
Kecanduan scrolling media sosial ternyata lebih berbahaya dari kecanduan alkohol.

PONTIANAK POST - Di tengah derasnya arus informasi digital, handphone telah menjadi teman setia dari bangun tidur hingga kembali terlelap.

Perhatian yang semula terbagi antara pekerjaan, interaksi sosial, hingga waktu pribadi, kini perlahan terpusat pada aliran konten singkat yang datang tanpa henti.

Setiap geseran layar menghadirkan hiburan baru, membuat waktu berjalan tanpa terasa, sekaligus mengaburkan batas antara kebutuhan dan kebiasaan.

Aktivitas sederhana yang awalnya dimaksudkan sebagai pengisi waktu, kini menjelma menjadi rutinitas yang menyerap energi, mempengaruhi pola pikir, serta menata ulang cara seseorang menikmati hidup sehari-hari.

Bagaimana Otak Beradaptasi

Kebiasaan scrolling di media sosial, terutama melalui video pendek seperti TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts, telah menjadi fenomena global.

Aktivitas ini memicu pelepasan dopamin secara cepat dan berulang di dalam otak.

Setiap kali jari menggeser layar, otak menerima banjir dopamin yang memicu rasa senang sesaat.

Pola ini menciptakan siklus ketagihan, di mana otak terus mencari rangsangan baru tanpa henti dan sensasi instan tersebut membuat aktivitas lain terasa hambar dan membosankan.

Dalam bukunya, Dopamine Nation, Dr. Anna Lembke, lulusan Universitas Stanford, menjelaskan bahwa "paparan rangsangan berlebihan membuat saraf penerima kepuasan menurun sensitivitasnya."

Akibatnya, dibutuhkan rangsangan lebih banyak untuk merasakan kepuasan yang sama.

Efek ini meluas, bukan hanya pada penggunaan gawai, tetapi juga pada minat terhadap hobi, interaksi sosial, hingga pola makan.

Seseorang bisa kehilangan motivasi menjalani aktivitas nyata karena stimulasi digital jauh lebih mudah dan intens.

Baca Juga: Sadar Nggak? Pemanis Buatan Bikin Otak 1,6 Tahun Lebih Tua

Siklus Ketagihan yang Sulit Dihentikan

Dopamin berperan penting sebagai neurotransmitter yang terkait dengan motivasi dan rasa senang.

Setiap kali menerima notifikasi maka dopamin dilepaskan.

Pelepasan berulang inilah yang menciptakan siklus ketagihan.

Seiring waktu, otak menjadi kurang sensitif sehingga selalu menginginkan stimulasi berikutnya.

Inilah alasan mengapa scrolling terasa sulit dihentikan begitu sudah dimulai.

Dampak pada Struktur dan Fungsi Otak

Kebiasaan ini terbukti mempengaruhi bagian otak yang berhubungan dengan kendali diri, memori, dan pengambilan keputusan.

Korteks prefrontal yang berfungsi mengatur logika dan perencanaan menjadi melemah, sedangkan hippocampus yang menyimpan memori jangka panjang ikut terganggu.

Akibatnya, konsentrasi menurun, memori melemah, dan kecenderungan membuat keputusan impulsif meningkat.

Brain Rot dan Doom Scrolling

Fenomena brain rot menjadi istilah populer untuk menggambarkan otak yang kehilangan ketajaman akibat terlalu lama mengkonsumsi konten singkat.

Daya fokus berkurang, motivasi menurun, dan kemampuan berpikir kritis melemah.

Selain itu, muncul kebiasaan doom scrolling, yaitu terus-menerus mengkonsumsi berita negatif. 

Hal ini memicu stres, kecemasan, bahkan mengganggu kualitas tidur.

Perbandingan dengan Kecanduan Alkohol

Efek scrolling kerap disamakan dengan kecanduan alkohol.

Alkohol merusak otak dengan menghancurkan sel saraf secara fisik, sementara kecanduan scrolling mengganggu sistem kerja otak lewat rangsangan dopamin berlebihan.

Meski mekanismenya berbeda, dampak keduanya tetap sama serius.

Melalui konsentrasi yang melemah, memori menurun, dan kendali diri terganggu.

Bedanya, kecanduan scrolling lebih sulit dikenali karena tidak meninggalkan tanda fisik.

Solusi untuk Mengurangi Kecanduan Scrolling dan Melindungi Otak

1. Mengurangi Paparan Media Sosial Secara Bertahap

Kebiasaan scrolling tanpa henti membuat otak terbiasa menerima rangsangan dopamin instan.

Dopamine detox membantu otak mereset ulang kebiasaan yang terbentuk akibat kecanduan gadget dengan cara membatasi penggunaan aplikasi pemicu.

Salah satu bentuk penerapannya adalah dengan mengurangi waktu penggunaan media sosial secara bertahap.

Mulai dari 30 menit pengurangan setiap hari, lalu dilanjutkan hingga bisa lepas dari media sosial selama beberapa jam penuh.

2. Membatasi Notifikasi sebagai Pemicu Utama

Notifikasi menjadi salah satu penyebab terbesar munculnya dorongan untuk terus scrolling.

Bunyi pesan, tanda merah di ikon aplikasi, atau push notification dari media sosial bekerja seperti “pemicu dopamin” yang sulit diabaikan.

Dengan menonaktifkan notifikasi, otak tidak lagi diserang secara intensitas oleh rangsangan instan.

Kebiasaan ini juga membantu membangun kesadaran bahwa kontrol atas ponsel berada pada diri sendiri, bukan sebaliknya.

3. Menetapkan Waktu Tanpa Layar (Screen-Free Time)

Menerapkan waktu khusus tanpa layar adalah bagian penting dari detox.

Misalnya, dua jam pertama setelah bangun tidur dan satu jam sebelum tidur malam bisa dijadikan waktu tanpa gawai.

Selain menenangkan pikiran, cara ini juga meningkatkan kualitas tidur karena tubuh tidak terganggu cahaya biru dari layar.

4. Mengisi Kekosongan dengan Aktivitas Bermakna

Dopamine detox tidak akan berhasil jika hanya berfokus pada pengurangan, tanpa ada pengganti aktivitas.

Otak yang terbiasa dengan stimulasi cepat akan merasa kosong bila tidak diarahkan.

Oleh karena itu, sangat penting mengisi waktu luang dengan kegiatan yang memberi kepuasan lebih sehat, seperti olahraga, menggambar, menulis, atau memasak.

5. Mengatur Ulang Pola Pikir

Salah satu kunci keberhasilan dopamine detox adalah mengubah cara pandang terhadap gawai.

Alih-alih melihatnya sebagai sumber hiburan utama, ponsel perlu dipandang hanya sebagai alat bantu.

Membangun kesadaran diri bahwa dopamin bukan musuh, melainkan zat kimia alami yang perlu dikelola, juga penting.

Sehingga detox hadir untuk mengatur ulang keseimbangan tersebut.

Baca Juga: Sulit Tidur Karena Kebanyakan Mikir? Coba 5 Rutinitas Ini, Ampuh untuk Otak yang Terlalu Aktif

Penutup

Setiap kebiasaan digital menyimpan konsekuensinya sendiri, tergantung bagaimana seseorang mengelola waktu dan perhatiannya.

Menggeser layar hanyalah salah satu dari sekian banyak aktivitas modern yang bisa menjadi bumerang bila dibiarkan tanpa kendali.

Pada akhirnya, tantangannya adalah bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan teknologi tanpa membiarkannya mengambil alih kendali atas hidup kita.

Hal ini menjadi seputar tentang membangun kesadaran diri dan menciptakan kebiasaan yang lebih sehat untuk melindungi fungsi otak dan kesejahteraan mental kita. (*)

Editor : Miftahul Khair
#kecanduan #media sosial #Cara Mengatasi #Efek #scrolling #otak #bahaya #alkohol #merusak