PONTIANAK POST - Gorengan adalah camilan yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.
Tempe mendoan, bakwan, pisang goreng, tahu isi, atau risoles hampir selalu hadir di warung, kafe, bahkan acara keluarga. Kepraktisan, harga terjangkau, dan rasanya yang renyah membuatnya sulit untuk ditolak.
Namun, di balik kenikmatannya, salah satu camilan favorit orang Indonesia ini menyimpan potensi bahaya jika dikonsumsi terus-menerus.
Berdasarkan riset Harvard T.H. Chan School of Public Health, sering mengonsumsi kudapan ini dapat meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk jantung, diabetes tipe 2, hingga obesitas.
Bahkan, Journal of the American Heart Association mencatat hubungan signifikan antara konsumsi makanan yang digoreng dengan peningkatan risiko gagal jantung.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami lebih dalam dampak negatifnya terhadap tubuh, sehingga kita bisa lebih bijak dalam mengatur pola makan sehari-hari.
Berikut merupakan dampak negatif bila mengkonsumsi gorengan terlalu sering:
1. Peningkatan Risiko Penyakit Jantung
Menurut data yang dirujuk dari Journal of the American Heart Association, orang yang mengonsumsi makanan goreng lebih dari empat kali dalam seminggu memiliki risiko lebih tinggi mengalami gagal jantung dibandingkan mereka yang jarang mengkonsumsinya.
Proses penggorengan pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti aldehid dan radikal bebas, yang merusak lapisan dalam pembuluh darah (endotel).
Kerusakan ini dapat mempercepat pembentukan plak kolesterol yang menyumbat arteri, sehingga memicu serangan jantung atau stroke.
2. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2
Dalam penelitian yang dirilis oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health, individu yang makan empat hingga enam kali per minggu berisiko 39% lebih besar terkena diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang jarang mengkonsumsinya.
Kandungan kalori dan lemak jenuh yang tinggi dapat menyebabkan resistensi insulin, kondisi di mana tubuh tidak merespons insulin dengan baik, sehingga kadar gula darah sulit dikendalikan.
3. Memicu Obesitas dan Sindrom Metabolik
Gorengan mengandung kalori yang padat tetapi miskin serat dan protein. Kebiasaan ngemil di sela waktu makan dapat meningkatkan asupan kalori harian secara signifikan tanpa memberikan rasa kenyang yang cukup.
Jika dilakukan terus-menerus, berat badan akan naik dengan cepat dan memicu obesitas. Obesitas sendiri merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit, termasuk hipertensi, kolesterol tinggi, hingga sindrom metabolik.
Baca Juga: Mengapa Harus Kurangi Gorengan? Begini Penjelasan dr Zaidul Akbar
4. Mengandung Lemak Trans dan Kolesterol Jahat
Salah satu bahaya utamanya adalah kandungan lemak trans yang terbentuk ketika minyak dipanaskan berulang kali.
Lemak trans ini dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (jahat) sekaligus menurunkan HDL (baik).
Menurut penelitian Harvard, konsumsi lemak trans dalam jangka panjang dapat memperburuk kesehatan jantung dan meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah.
5. Merusak Kesehatan Hati
Jika dimasak dengan minyak yang digunakan berulang kali dapat menghasilkan senyawa toksik yang membebani hati (liver).
Jika kebiasaan ini berlangsung lama, hati harus bekerja lebih keras untuk mendetoksifikasi tubuh, sehingga fungsinya dapat terganggu.
Pada kasus tertentu, kerusakan hati dapat berkembang menjadi perlemakan hati non-alkoholik.
6. Meningkatkan Risiko Kanker Tertentu
Proses penggorengan dalam minyak panas dapat memunculkan senyawa berbahaya seperti akrilamida, terutama jika bahan yang digoreng mengandung pati (misalnya kentang goreng atau pisang goreng).
Akrilamida bersifat karsinogenik dan, menurut berbagai studi, dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker bila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
7. Dampak Negatif bagi Sistem Pencernaan
Kandungan lemak tinggi di dalamnya dapat memperlambat proses pencernaan.
Hal ini sering menimbulkan gejala seperti kembung, mulas, atau diare, terutama pada orang yang memiliki masalah lambung atau empedu.
Selain itu, minyak yang tidak segar juga dapat memicu iritasi pada dinding usus.
Tips Aman Menikmati Gorengan
Meski memiliki banyak risiko, bukan berarti kamu harus sepenuhnya berhenti menikmati gorengan.
Berikut langkah-langkah agar konsumsi gorengan lebih aman:
- Batasi frekuensi, idealnya tidak lebih dari 1–2 kali seminggu.
- Pilih minyak yang sehat, seperti minyak zaitun atau minyak kanola, dan hindari menggunakan minyak secara berulang.
- Perbanyak makanan kaya serat seperti sayuran dan buah untuk membantu menyeimbangkan asupan lemak.
- Padukan pola makan sehat dengan olahraga teratur agar metabolisme tetap optimal.
Gorengan memang lezat dan mudah didapat, tetapi riset menunjukkan bahwa kebiasaan mengkonsumsinya secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari jantung, diabetes, obesitas, hingga kanker.
Kunci untuk menikmatinya tanpa mengorbankan kesehatan adalah konsumsi sesekali saja, pastikan kualitas minyak yang digunakan baik, dan imbangi dengan gaya hidup sehat.
Dengan langkah bijak, kamu tetap bisa menikmati kelezatannya sambil menjaga kesehatan jangka panjang. (*)
Editor : Miftahul Khair