PONTIANAK POST - Di tengah banyaknya tren pola makan seperti vegan, vegetarian, atau plant-based, diet omnivor tetap menjadi salah satu pilihan yang paling umum.
Metode ini tidak membatasi kelompok makanan tertentu, melainkan memungkinkan seseorang mengkonsumsi produk hewani sekaligus tumbuhan.
Fleksibilitasnya membuat banyak orang menilai metode ini lebih mudah diikuti dalam jangka panjang.
Namun, kebebasan dalam memilih makanan juga memerlukan pemahaman tentang keseimbangan gizi.
Penelitian dari Journal of Nutrition and Health Sciences dan Journal of the American Heart Association menyoroti bahwa diet omnivor dapat membawa manfaat kesehatan, tetapi tetap memiliki potensi resiko bila tidak direncanakan dengan baik.
Apa Itu Diet Omnivor?
Secara sederhana, dapat diartikan sebagai pola makan yang mencakup sumber protein hewani dan nabati.
Daging merah, unggas, ikan, telur, susu, sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian semuanya bisa menjadi bagian dari menu sehari-hari.
Menurut Journal of Nutrition and Health Sciences, pola ini dianggap lebih fleksibel dibandingkan vegetarian atau vegan, sehingga memudahkan seseorang memperoleh berbagai zat gizi penting.
Manfaat Diet Omnivor
Beberapa keunggulan yang ditunjukkan dalam berbagai penelitian, termasuk dari Journal of the American Heart Association, antara lain:
1. Asupan gizi yang lebih lengkap
Metode ini memungkinkan seseorang mendapatkan protein berkualitas tinggi, vitamin B12, zat besi heme, asam lemak omega-3, dan berbagai mikronutrien lain yang mungkin lebih sulit dipenuhi melalui pola makan nabati murni.
2. Dukungan untuk massa otot dan metabolisme
Protein hewani yang mudah diserap membantu mempertahankan massa otot, terutama pada orang dewasa aktif atau lanjut usia.
3. Variasi menu yang lebih luas
Dengan pilihan makanan yang beragam, cara ini cenderung lebih mudah dipertahankan sehingga cocok untuk orang yang tidak ingin terlalu banyak pembatasan.
4. Potensi manfaat untuk kesehatan jantung
Studi yang dimuat dalam Journal of the American Heart Association menemukan bahwa konsumsi makanan hewani yang seimbang dengan sayur, buah, dan biji-bijian dapat mendukung mekanisme pertahanan antioksidan, yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.
Baca Juga: Berat Badan Turun 12 Kg, Ini Rahasia Konsistensi Diet Prilly Latuconsina
Risiko Diet Omnivor
Meskipun memiliki banyak keunggulan, diet omnivor juga mengandung resiko bila tidak dikelola dengan bijak:
1. Asupan lemak jenuh berlebih
Mengkonsumsi terlalu banyak daging olahan atau daging merah berlemak dapat meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyakit kardiovaskular.
2. Peningkatan kalori tanpa disadari
Karena variasi makanan sangat luas, orang yang menjalani metode ini mungkin makan lebih banyak dari kebutuhan, yang berujung pada kenaikan berat badan.
3. Pilihan makanan yang tidak seimbang
Jika lebih sering memilih makanan cepat saji atau tinggi gula dibandingkan sayur dan buah, manfaatnya menjadi berkurang.
4. Risiko lingkungan
Produksi daging, terutama daging merah, memiliki dampak yang cukup besar terhadap lingkungan.
Memilih sumber protein hewani yang berkelanjutan dapat menjadi langkah lebih bijak.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pengganti Nasi Putih, Nasi Merah Ternyata Ampuh untuk Diet!
Tips Menjalani Diet Omnivor dengan Sehat
Pilih daging tanpa lemak dan batasi konsumsi daging olahan. Perbanyak sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian dalam menu harian.
Pastikan porsi protein, karbohidrat, dan lemak seimbang. Minum cukup air dan tetap aktif secara fisik. Sesuaikan pola makan dengan kondisi kesehatan atau anjuran ahli gizi.
Kesimpulan
Diet omnivor merupakan pola makan yang fleksibel, memungkinkan seseorang mendapatkan berbagai zat gizi dari sumber nabati maupun hewani.
Berdasarkan data yang dirujuk dari Journal of Nutrition and Health Sciences dan Journal of the American Heart Association, metode ini dapat mendukung kesehatan bila dijalankan dengan pemilihan makanan yang seimbang.
Kuncinya adalah memperbanyak sayur dan buah, memilih sumber protein hewani yang sehat, dan menghindari konsumsi berlebihan makanan tinggi lemak jenuh atau olahan. (*)
Editor : Miftahul Khair