PONTIANAK POST - Banyak orang menganggap gigi berlubang hanyalah masalah sepele yang cukup diatasi dengan tambal atau obat pereda nyeri.
Padahal, jika dibiarkan tanpa perawatan, gigi berlubang bisa berkembang menjadi masalah serius bahkan membentuk kista (odontogenic cyst) yang berpotensi merusak jaringan tulang rahang.
Dirujuk dari publikasi medis di StatPearls (NCBI Bookshelf) dan laporan kasus dalam PubMed Central (PMC), infeksi yang berasal dari gigi berlubang atau yang sudah mati dapat memicu terbentuknya kista pada jaringan di sekitar akar gigi.
Baca Juga: Solusi Alami Agar Gigi Tetap Putih dan Sehat Tanpa Perawatan Mahal
Gigi Berlubang Bisa Menjadi Kista
Gigi berlubang (dental caries) terjadi ketika bakteri dalam mulut menghasilkan asam yang mengikis lapisan email gigi. Jika kerusakan terus berlanjut dan mencapai bagian dalam (pulp), infeksi bisa menyebar ke akar dan jaringan sekitarnya.
Menurut penjelasan dari StatPearls, kondisi ini bisa menyebabkan radang pada jaringan sekitar akar (periapical inflammation). Ketika sistem imun tubuh mencoba melawan infeksi tersebut, bisa terbentuk ruang berisi cairan atau nanah.
Jika proses ini berlanjut dalam waktu lama, dinding epitel di sekitar infeksi dapat berubah menjadi kista radikular (radicular cyst) jenis kista odontogenik yang paling sering ditemukan.
Kista ini bersifat non-kanker (benign), tetapi dapat tumbuh perlahan hingga merusak tulang rahang di sekitarnya.
Dirujuk dari laporan kasus PubMed, kista radikular bahkan bisa terbentuk pada gigi susu yang mengalami karies berat dan infeksi pulpa, menunjukkan bahwa kondisi ini dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pada tahap awal, kista sering tidak menimbulkan gejala. Namun, seiring ukurannya membesar, penderita bisa mengalami:
-
Bengkak pada gusi atau rahang,
-
Nyeri saat menggigit,
-
Gigi terasa goyah,
-
Perubahan warna (menjadi gelap),
-
Kadang disertai pembentukan abses atau nanah.
Jika tidak ditangani, kista dapat memperluas area infeksi hingga menyebabkan kerusakan tulang rahang, sinusitis maksila, atau infeksi sekunder yang lebih serius.
Cara Diagnosis dan Penanganannya
Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan klinis dan rontgen panoramik untuk melihat adanya lesi atau ruang abnormal di sekitar akar gigi.
Dalam beberapa kasus, CT scan atau pemeriksaan histopatologi diperlukan untuk memastikan apakah benjolan tersebut adalah kista atau jenis lesi lain.
Penanganan bergantung pada tingkat keparahan. Untuk kasus ringan, perawatan saluran akar (root canal treatment) dapat menghentikan infeksi dan mencegah kista berkembang.
Namun jika kista sudah terbentuk besar, prosedur bedah kecil (enukleasi atau kistektomi) mungkin diperlukan untuk mengangkat jaringan tersebut secara menyeluruh.
Baca Juga: Cara Alami Redakan Nyeri Gigi Tanpa Obat, Mudah dan Aman!
Pencegahan Tetap yang Terbaik
Meski terdengar menakutkan, kista gigi sebenarnya bisa dicegah dengan menjaga kesehatan sejak dini. Beberapa langkah penting yang direkomendasikan oleh para ahli:
-
Menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta berfluoride,
-
Rutin periksa setiap enam bulan sekali,
-
Segera menambal sebelum infeksi meluas,
-
Menghindari konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan.
Dengan perawatan yang tepat waktu, kamu bisa mencegah karies berkembang menjadi infeksi kronis yang berujung pada pembentukan kista.
Gigi berlubang bukan hanya soal rasa sakit atau bau mulut, tetapi bisa menjadi pintu masuk menuju komplikasi serius seperti kista radikular.
Infeksi akibat karies yang tidak dirawat dapat merusak jaringan di sekitar akar dan membentuk kista odontogenik.
Karena itu, menjaga kebersihan mulut dan segera menangani gigi berlubang adalah langkah terbaik untuk mencegah komplikasi yang lebih parah. (*)
Editor : Miftahul Khair