PONTIANAK POST - Tren thrifting atau membeli pakaian bekas kini sedang digandrungi oleh banyak kalangan, terutama anak muda.
Selain dianggap ramah lingkungan dan hemat biaya, thrifting juga menjadi bagian dari gaya hidup berkelanjutan.
Namun, dibalik keseruannya berburu barang “preloved”, ternyata ada bahaya tersembunyi yang sering tidak disadari yaitu risiko infeksi kulit akibat baju bekas yang tidak higienis.
Salah satunya adalah Molluscum contagiosum, infeksi kulit menular yang dapat menyebar lewat benda atau pakaian yang terkontaminasi.
Pakaian Thrifting Bisa Sebabkan Molluscum Contagiosum
Dilansir dari Cleveland Clinic dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Molluscum contagiosum adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh virus poxvirus.
Ciri khasnya adalah munculnya benjolan kecil berwarna putih atau kemerahan di permukaan kulit, yang kadang terasa gatal atau nyeri jika terinfeksi sekunder.
Virus ini bisa menular melalui kontak langsung kulit ke kulit, maupun kontak tidak langsung melalui benda pribadi seperti handuk, pakaian, atau sprei.
Artinya, jika seseorang memakai pakaian bekas yang belum dicuci atau disterilisasi dengan benar, potensi penularan virus ini meningkat.
Mengapa Thrifting Bisa Jadi Risiko Penularan?
Meski pakaian bekas terlihat bersih, menurut data yang dilansir dari The Times of India, virus dan bakteri dapat bertahan pada serat kain dalam waktu tertentu terutama jika pakaian disimpan di tempat lembab atau tidak dicuci dengan suhu tinggi.
Kondisi ini memungkinkan penularan penyakit kulit seperti Molluscum contagiosum, jamur, hingga dermatitis kontak. Risiko meningkat jika kulit pemakai mengalami luka kecil, gigitan serangga, atau kondisi kering yang memudahkan virus masuk.
Selain itu, baju yang pernah dipakai oleh seseorang dengan infeksi kulit bisa menjadi “medium pembawa” (fomite). Tanpa desinfeksi menyeluruh, baju tersebut tetap bisa menularkan virus ke pemakai baru.
Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai
Beberapa gejala Molluscum contagiosum menurut CDC dan Cleveland Clinic meliputi:
1. Benjolan kecil seperti mutiara di kulit, dengan cekungan halus di bagian tengah.
2. Jumlahnya bisa bertambah cepat, terutama pada area lembab seperti lipatan paha, ketiak, leher, atau lengan.
3. Kadang terasa gatal, nyeri, atau meradang bila terinfeksi bakteri sekunder.
4. Pada anak-anak, sering muncul di wajah dan badan; sedangkan pada orang dewasa, dapat muncul di area genital akibat kontak kulit.
Infeksi ini bisa sembuh sendiri dalam 6–12 bulan, namun pada sebagian kasus dapat bertahan hingga 2 tahun jika tidak diobati atau daya tahan tubuh menurun.
Cara Aman agar Terhindar dari Infeksi
Berdasarkan panduan dari para dermatolog yang dikutip dari Cleveland Clinic dan Times of India, berikut langkah pencegahan yang direkomendasikan sebelum memakai baju bekas:
1. Cuci pakaian dengan air panas dan deterjen antibakteri. Virus dan jamur bisa mati pada suhu lebih dari 60°C.
2. Gunakan desinfektan alami atau larutan antiseptik ringan sebelum menjemur pakaian.
3. Setrika pakaian pada suhu tinggi untuk memastikan kuman benar-benar mati.
4. Hindari mencoba pakaian langsung di kulit sebelum dicuci, terutama di toko thrift.
5. Perhatikan kondisi kulit pribadi. Jika terdapat luka, hindari mengenakan pakaian bekas sebelum luka benar-benar sembuh.
Tren thrifting memang menyenangkan dan berkelanjutan, tetapi kebersihan tetap nomor satu. Pastikan setiap pakaian bekas yang Anda beli telah dicuci dan disterilisasi dengan benar.
Dengan langkah pencegahan yang tepat, Anda tetap bisa tampil gaya tanpa harus mengorbankan kesehatan kulit. (*)
Editor : Miftahul Khair