PONTIANAK POST - Bagi siapa pun yang sedang menjalani program diet, istilah cheat day dan cheat meal mungkin sudah tidak asing lagi.
Kedua istilah ini sering dianggap sebagai pelarian aman untuk menikmati makanan favorit tanpa merasa bersalah.
Tapi, banyak orang ternyata belum benar-benar memahami perbedaannya, serta dampak yang bisa ditimbulkannya terhadap keberhasilan jangka panjang.
Menurut data rujukan dari pakar kesehatan, keduanya punya efek fisiologis dan psikologis yang berbeda terhadap tubuh dan ternyata, para ahli gizi lebih menyarankan salah satunya.
Apa Itu Cheat Meal?
Hal ini merupakan program satu kali waktu makan di mana seseorang boleh keluar dari polanya untuk menikmati makanan yang diinginkan misalnya burger, nasi goreng, pizza, atau dessert manis.
Artinya, sepanjang hari kamu tetap menjaga pola makan sehat seperti biasa, namun pada satu sesi makan (contohnya makan malam di akhir pekan), kamu boleh lebih bebas.
Menurut Healthline, istilah ini sebenarnya bisa memberikan beberapa manfaat, antara lain:
1. Memberi efek psikologis positif
Program menurutnkan berat badan ketat sering kali membuat seseorang merasa tertekan dan cepat bosan.
Ia memberikan ruang fleksibel yang membantu kamu menikmati prosesnya tanpa merasa tersiksa.
2. Meningkatkan metabolisme tubuh
Dalam beberapa penelitian, konsumsi kalori sedikit lebih tinggi sesekali dapat meningkatkan kadar leptin (hormon yang mengatur rasa lapar dan energi), sehingga tubuh tidak cepat beradaptasi pada defisit kalori.
3. Meningkatkan konsistensi diet jangka panjang
Dengan adanya momen makan bebas, seseorang lebih mudah bertahan dalam pola makan sehat, karena tahu masih ada ruang untuk menikmati makanan favorit secara terencana.
Namun, penting untuk diingat: cheat meal bukan alasan untuk makan sebanyak-banyaknya. Porsinya tetap perlu terkontrol cukup satu kali makan, bukan satu hari penuh.
Baca Juga: Sourdough Bread Bukan Sekadar Viral, Ini Alasan Ilmiah Mengapa Roti Ini Cocok untuk Diet Seimbang
Apa Itu Cheat Day?
Berbeda dari cheat meal, cheat day berarti satu hari penuh di mana seseorang membebaskan diri dari aturan menurunkan berat badan. Biasanya dilakukan setelah seminggu penuh menjalankan pola makan sehat.
Sepanjang hari, seseorang bisa mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, atau karbohidrat tanpa batasan dari pagi hingga malam.
Namun, menurut pakar dari Cleveland Clinic, ia memiliki risiko yang lebih tinggi, terutama bagi orang yang mudah kehilangan kendali dalam hal makan.
Risiko Cheat Day Jika Tidak Terencana
1. Meningkatkan risiko makan berlebihan (binge eating)
Ketika seseorang menahan diri terlalu lama, ia bisa menjadi pelampiasan berlebihan, yang justru memicu rasa bersalah setelahnya.
2. Membatalkan defisit kalori mingguan
Satu hari penuh makan bebas bisa dengan mudah menggagalkan hasil selama enam hari sebelumnya.
Misalnya, jika kamu menghemat 500 kalori per hari, tapi di hari libur diet menambah 2.000–3.000 kalori, maka seluruh progres bisa hilang dalam semalam.
3. Gangguan pencernaan dan gula darah
Lonjakan makanan tinggi gula dan lemak bisa menyebabkan perut kembung, kadar gula darah melonjak, dan bahkan memperburuk sensitivitas insulin.
4. Dampak psikologis negatif
Setelahnya, banyak orang justru merasa bersalah, kecewa pada diri sendiri, dan kehilangan motivasi untuk kembali ke pola sehat.
Baca Juga: Bukan Sekadar Makan Segala, Ini Fakta Ilmiah tentang Diet Omnivor yang Jarang Dibahas
Mana yang Lebih Disarankan?
Baik Healthline maupun Cleveland Clinic sepakat bahwa cheat meal lebih disarankan dibanding cheat day.
Alasannya:
- Lebih mudah dikendalikan karena hanya terjadi pada satu waktu makan.
- Tidak menyebabkan lonjakan kalori berlebihan, sehingga progres tetap terjaga.
- Cheat meal membantu menjaga kesehatan mental, tanpa membuat tubuh stres akibat diet ekstrem.
Ahli dari Cleveland Clinic menegaskan, Diet seharusnya bersifat fleksibel dan berkelanjutan.
Hal ini membantu seseorang tetap menikmati hidup tanpa merusak pencapaian kesehatannya.
Tips dari Ahli Gizi untuk Menjalankan Secara Aman
Agar hal ini tetap memberikan efek positif dan tidak berubah menjadi cheat day terselubung, berikut saran dari pakar nutrisi yang dikutip dari Healthline dan Cleveland Clinic.
1. Rencanakan waktunya dengan jelas
Misalnya, hanya pada malam minggu setelah sepekan menjaga pola makan. Hindari melakukannya secara spontan.
2. Nikmati makanan yang benar-benar kamu rindukan
Pilih makanan yang memberi kepuasan emosional bukan hanya asal makan sembarangan.
3. Batasi porsi dan frekuensi
Satu porsi besar sudah cukup. Jangan ubah cheat meal menjadi dua atau tiga kali dalam satu hari.
4. Perbanyak air putih dan serat sebelum cheat meal
Ini membantu memperlambat penyerapan kalori dan membuat kamu lebih cepat kenyang.
5. Kembali ke pola sehat setelahnya
Keesokan harinya, langsung kembali ke rutinitas makan sehat agar tubuh tidak kaget.
6. Perhatikan reaksi tubuhmu
Jika setelahnya kamu merasa lesu, kembung, atau pusing, mungkin porsinya terlalu besar sesuaikan di kesempatan berikutnya. (*)
Editor : Miftahul Khair