PONTIANAK POST - Telur adalah salah satu makanan paling populer di dunia. Dari menu sarapan hingga lauk sehari-hari, telur hampir selalu hadir karena rasanya lezat, bergizi tinggi, dan mudah diolah.
Meski demikian, masih banyak yang percaya pada mitos lama bahwa terlalu banyak makan telur bisa menyebabkan bisul.
Anggapan ini sudah beredar turun-temurun, terutama di masyarakat Asia, termasuk Indonesia, yang sering mengaitkan makanan tertentu dengan timbulnya bisul di kulit atau perut.
Padahal, dalam dunia medis, istilah “bisul” bisa berarti dua hal pertama, bisul kulit atau furunkel yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada folikel rambut, dan kedua, bisul lambung (peptic ulcer) yang merupakan luka pada dinding dalam lambung atau usus halus.
Karena itu, penting untuk memahami konteks medisnya agar tidak salah paham.
Bisul Menurut Dunia Medis
Bisul atau ulcer sebenarnya bukan hanya “bintil” di kulit, tapi juga bisa muncul di dalam tubuh, seperti di lambung atau usus.
Menurut Healthline, bisul di dalam perut (disebut peptic ulcer) terjadi ketika lapisan pelindung lambung rusak, sehingga asam lambung melukai jaringan di bawahnya.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele! Ini Bahaya Konsumsi Telur Terlalu Banyak!
Apakah Telur Bisa Menyebabkan Bisul?
Menurut para ahli dari Healthline, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa makan banyak dapat menyebabkan furunkel.
Bahkan sebaliknya, pangan sumber protein justru termasuk makanan yang aman dikonsumsi oleh penderita bisul, asalkan tidak digoreng dengan minyak berlebih atau diberi bumbu pedas.
Telur rebus atau orak-arik lembut bisa menjadi sumber protein yang ringan dan mudah dicerna. Kandungan nutrisinya membantu memperbaiki jaringan tubuh, termasuk bagian lambung yang mungkin mengalami luka.
Namun, cara pengolahan tetap penting. Pangan sumber protein yang digoreng dengan banyak minyak atau sambal pedas bisa menimbulkan rasa perih bagi mereka yang punya lambung sensitif.
Dalam panduannya mengenai pola makan untuk penderita furunkel, Verywell Health menyebut bahwa telur termasuk sumber protein tanpa lemak yang baik untuk tubuh.
Si bulat bergizi mengandung nutrisi penting seperti vitamin B12, kolin, dan zat besi, yang mendukung regenerasi sel dan kesehatan pencernaan.
Namun, Verywell Health juga mengingatkan bahwa reaksi tubuh setiap orang bisa berbeda.
Jika setelah makan telur seseorang merasa nyeri atau tidak nyaman di perut, itu bisa jadi tanda bahwa tubuhnya tidak cocok terhadap makanan tersebut.
Dalam kasus seperti ini, sebaiknya hentikan dulu konsumsi pangan sumber protein dan konsultasikan ke dokter.
Sementara itu, Medical News Today menulis bahwa tidak ada makanan tertentu yang secara langsung menyebabkan bisul, termasuk pangan sumber protein.
Meski begitu, beberapa orang dengan perut sensitif mungkin mengalami rasa tidak nyaman setelah makan makanan tinggi lemak atau digoreng bukan karena pangan sumber protein, tapi karena cara pengolahannya.
Jadi, pangan sumber protein sendiri tidak menyebabkan bisul, namun pengolahannya dan kondisi lambung seseorang bisa mempengaruhi reaksi tubuh setelah mengkonsumsinya.
Baca Juga: Resep Pancake Gurih Isi Telur Rebus dan Abon: Sarapan Praktis dan Bergizi
Tips Aman Makan Telur agar Tidak Ganggu Lambung
Berikut beberapa tips dari para ahli agar tetap aman mengkonsumsi pangan sumber protein ini:
1. Pilih cara masak yang ringan, seperti direbus, dikukus, atau diorak-arik tanpa minyak berlebih.
2. Hindari saus pedas, sambal, atau mentega berlebih, karena bisa memicu rasa perih di lambung.
3. Konsumsi dalam jumlah wajar, 1–2 butir per hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan protein.
4. Makan telur bersama makanan lembut seperti bubur, pisang, atau sayur rebus agar pencernaan lebih mudah.
5. Perhatikan respons tubuh. Jika muncul perih atau mual, kurangi dan konsultasikan ke dokter.
Jadi, anggapan bahwa banyak makan telur bisa menyebabkan furunkel ternyata tidak didukung oleh bukti medis.
Telur tetap menjadi makanan bergizi tinggi yang aman dikonsumsi, selama diolah dengan cara yang sehat dan tidak berlebihan.
Yang perlu diwaspadai bukanlah telurnya, tapi cara pengolahan serta kondisi kesehatan lambung masing-masing orang.
Dengan pola makan seimbang, istirahat cukup, dan gaya hidup sehat, Anda tetap bisa menikmati setiap hari tanpa takut terkena bisul. (*)
Editor : Miftahul Khair