Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Waspada! Gula Darah Tinggi Bisa Picu Stroke Tanpa Disadari, Simak Penjelasan Ahli dan Cara Pencegahannya

Syeti Agria Ningrum • Rabu, 22 Oktober 2025 | 16:30 WIB
Ilustrasi tenaga medis memeriksa tekanan darah lansia penderita diabetes untuk mencegah risiko stroke.
Ilustrasi tenaga medis memeriksa tekanan darah lansia penderita diabetes untuk mencegah risiko stroke.

PONTIANAK POST - Gula darah tinggi sering dianggap hanya berbahaya karena bisa menyebabkan diabetes.

Padahal resikonya jauh lebih serius, gula darah tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan peluang seseorang terkena stroke, terutama stroke iskemik.

Beberapa lembaga medis internasional menjelaskan bahwa kondisi ini saling berhubungan erat dan sering kali berawal dari kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele.

Hubungan antara Gula Darah Tinggi dan Stroke

Menurut American Stroke Association, ketika kadar gula dalam darah tetap tinggi dalam jangka panjang, dinding pembuluh darah bisa mengalami kerusakan. 

Gula darah yang berlebih menyebabkan penumpukan plak dan pengerasan arteri (aterosklerosis).

Kondisi ini menghambat aliran darah ke otak. Akibatnya, otak bisa kekurangan oksigen dan nutrisi dan disinilah risiko gangguan sirkulasi otak iskemik (penyumbatan pembuluh darah di otak) meningkat tajam.

Dalam beberapa kasus, gumpalan darah yang terbentuk di bagian tubuh lain bisa ikut terbawa aliran darah hingga ke otak, menyebabkan gangguan sirkulasi otak embolik.

Pasien Diabetes Lebih Rentan Terkena Stroke

Dirujuk dari Cleveland Clinic, seseorang dengan diabetes melitus memiliki kadar gula darah yang tinggi secara kronis. Gula yang berlebih dalam darah membuat pembuluh darah menjadi kaku dan mudah rusak.

Selain itu, NIDDK (National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases) menegaskan bahwa diabetes seringkali disertai dengan kondisi lain seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas semua faktor ini memperbesar risiko gangguan sirkulasi otak.

Dengan kata lain, bukan hanya gula darahnya yang berbahaya, tapi juga efek berantai yang ditimbulkannya terhadap sistem kardiovaskular secara keseluruhan.

Gula Darah Tinggi Pengaruhi Otak

Menurut American Diabetes Association (ADA), lonjakan gula darah dapat menyebabkan peradangan dan stres oksidatif pada pembuluh darah kecil di otak.

Jika dibiarkan, ini dapat mengurangi kemampuan otak untuk menerima pasokan darah yang cukup, sehingga meningkatkan risiko gangguan sirkulasi otak berulang atau bahkan kerusakan kognitif setelah gangguan sirkulasi otak.

Otak yang kekurangan suplai darah dalam waktu lama akan kehilangan sel-sel penting yang mengatur fungsi tubuh mulai dari bicara, ingatan, hingga gerakan otot.

Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai

Bagi penderita diabetes, mengenali tanda-tanda awal sangat penting.
Menurut Cleveland Clinic, gejala gangguan sirkulasi otak bisa muncul tiba-tiba, seperti:

- Wajah terasa menurun sebelah (facial drooping)

- Bicara tidak jelas atau sulit berbicara

- Lemah pada satu sisi tubuh

- Pandangan kabur atau hilang sebagian

- Pusing mendadak atau kehilangan keseimbangan

Jika tanda-tanda ini muncul, segera cari pertolongan medis darurat. Waktu penanganan sangat menentukan peluang pemulihan otak.

Cara mencegah risiko akibat gula darah tinggi

Kabar baiknya, risiko akibat gula darah tinggi bisa dikendalikan. Menurut NIDDK langkah pencegahan utama meliputi:

1. Menjaga kadar gula darah tetap stabil, pantau rutin dan ikuti anjuran dokter.

2. Mengatur pola makan seimbang, perbanyak sayuran, protein tanpa lemak, dan batasi makanan tinggi gula atau lemak jenuh.

3. Aktif bergerak setiap hari,  minimal 30 menit aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki.

4. Berhenti merokok dan batasi alkohol, karena keduanya memperburuk kerusakan pembuluh darah.

5. Kelola stres dan tidur cukup, kadar stres tinggi juga bisa memicu fluktuasi gula darah.

Gula darah tinggi bukan hanya soal diabetes, tapi juga bom waktu yang bisa memicu gangguan sirkulasi otak.

Ketika kadar gula tidak dijaga, pembuluh darah melemah, aliran darah ke otak terganggu, dan risiko gangguan sirkulasi otak meningkat.

Dengan pengelolaan gaya hidup, pengobatan teratur, dan deteksi dini, hubungan berbahaya antara diabetes dan gangguan sirkulasi otak bisa dicegah. (*)

Editor : Miftahul Khair
#waspada #diabetes #Stroke #tanda #bahaya #ciri ciri #gula darah