PONTIANAK POST - Demam lari yang kian marak di berbagai kota membawa dampak positif bagi gaya hidup sehat. Namun di balik euforia tersebut, dokter olahraga mengingatkan adanya risiko cedera yang kerap luput disadari pelari, yakni bone stress injury atau cedera tekanan tulang.
Bone stress bukan patah tulang biasa. Cedera ini terjadi akibat tekanan berulang pada tulang yang melampaui kemampuan adaptasi tubuh. Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Antonius Andi Kurniawan menjelaskan, bone stress merupakan tahap awal sebelum terjadinya fraktur stres. “Belum sampai patah, tetapi tulang sudah mengalami tekanan yang cukup berat dan menimbulkan nyeri,” ujarnya.
Cedera ini sering dialami pelari jarak jauh maupun pelari rekreasional yang tiba-tiba meningkatkan intensitas latihan. Rasa nyeri biasanya muncul saat berlari, lalu semakin lama terasa meski sudah berhenti beraktivitas. Dokter spesialis ortopedi dr Andi Praja Wira Yudha Luthfi menyebut, nyeri yang tidak kunjung hilang meski sudah istirahat perlu diwaspadai.
“Itu sinyal tubuh bahwa tulang sedang bermasalah dan butuh evaluasi medis,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan sepatu lari berpelat karbon turut menjadi sorotan. Sepatu ini dirancang dengan carbon plate di bagian midsole untuk meningkatkan efisiensi langkah dan kecepatan. Teknologi tersebut banyak digunakan atlet elite dan kini populer di kalangan pelari umum.
Baca Juga: Kenali 8 Warna Lidah dan Artinya, Bisa Jadi Tanda Penyakit Ringan hingga Serius
Namun, para ahli menegaskan sepatu karbon bukan tanpa risiko. Pelat karbon membuat kaki lebih kaku dan mengubah biomekanika lari. Dampaknya, beban dapat berpindah ke tulang tertentu, terutama tulang kering dan telapak kaki. Jika digunakan tanpa adaptasi yang cukup, risiko bone stress pun meningkat.
“Masalahnya bukan pada sepatunya, tetapi pada cara dan frekuensi penggunaannya,” kata dr Andi. Ia menilai banyak pelari pemula tergoda menggunakan sepatu karbon setiap sesi latihan, padahal tubuh belum siap menerima tekanan tambahan tersebut.
Faktor lain yang memicu bone stress antara lain volume latihan berlebihan, waktu pemulihan yang kurang, hingga kondisi kepadatan tulang yang rendah. Karena itu, dokter menyarankan sepatu karbon digunakan secara terbatas, misalnya saat lomba atau latihan tertentu, serta tetap dikombinasikan dengan sepatu latihan harian.
Penanganan bone stress membutuhkan istirahat yang cukup dan penyesuaian program latihan. Jika diabaikan, cedera ini bisa berkembang menjadi fraktur stres yang memerlukan waktu pemulihan lebih lama.
Para ahli menekankan, kunci pencegahan adalah mendengarkan sinyal tubuh. Nyeri bukan sesuatu yang harus “ditaklukkan”, melainkan tanda bahwa tubuh sedang meminta jeda. Di tengah tren lari dan inovasi teknologi sepatu, kesadaran akan batas kemampuan tubuh tetap menjadi faktor utama untuk berlari dengan aman dan berkelanjutan. (hnf)
Editor : Hanif