PONTIANAK POST - Penurunan fungsi otak kerap dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari proses penuaan.
Lupa kejadian lama, sulit mengingat nama, atau kehilangan fokus sering dianggap wajar, bahkan pada usia muda.
Namun, ketika gangguan memori berkembang menjadi penyakit serius seperti Alzheimer, tentu hal ini tak bisa dipandang sebelah mata.
Kabar baiknya, menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan usaha besar. Aktivitas sederhana seperti olahraga ringan ternyata sudah cukup memberi dampak positif. Bahkan, hanya dalam hitungan menit.
Baca Juga: Ahli Kesehatan Ungkap 7 Khasiat Bunga Telang: Jaga Kesehatan Otak hingga Tingkatkan Daya Tahan Tubuh
Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa olahraga mampu meningkatkan fungsi kognitif dan daya ingat.
Salah satu bagian otak yang paling banyak dikaji adalah hipokampus, struktur penting di dalam lobus temporal yang berperan besar dalam pembentukan memori baru. Kerusakan pada area ini kerap dikaitkan dengan Alzheimer dan gangguan kognitif lainnya.
Dikutip dari Medical News Today, tim peneliti dari University of California dan University of Tsukuba, Jepang, mencoba menjawab pertanyaan menarik: apakah olahraga singkat, hanya beberapa menit, juga dapat meningkatkan memori otak?
Untuk mengetahuinya, para peneliti melibatkan 36 orang dewasa muda. Mereka diminta melakukan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan cepat atau joging, selama 10 menit. Setelah itu, aktivitas otak para peserta diukur menggunakan MRI fungsional beresolusi tinggi.
Hasilnya cukup mengejutkan. Pencitraan otak menunjukkan peningkatan konektivitas antara dentate gyrus—bagian hipokampus yang berfungsi menyimpan ingatan baru—dengan area kortikal yang terlibat dalam pemrosesan memori.
Baca Juga: Hati-Hati! Stres Berlebihan Terbukti Bisa Merusak Memori Otak, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Artinya, olahraga ringan selama 10 menit saja sudah mampu meningkatkan fungsi memori dan kognisi otak. Lalu, bagaimana dampaknya bagi lansia?
Pertanyaan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi para peneliti. Mereka berencana melakukan studi lanjutan untuk mengetahui apakah manfaat serupa juga berlaku pada kelompok usia lanjut.
Meski demikian, satu hal sudah jelas: aktivitas fisik bukan hanya penting bagi kebugaran tubuh, tetapi juga krusial untuk kesehatan otak.
Olahraga yang Disarankan untuk Lansia
Menurut dr. Fiona Amelia, MPH, dari KlikDokter, ada beberapa jenis aktivitas fisik yang relatif aman dan bermanfaat bagi lansia, antara lain jalan kaki, berenang, dan bersepeda.
Jalan kaki merupakan pilihan paling sederhana. Aktivitas ini dapat membantu menjaga berat badan, menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes, sekaligus memperkuat tulang serta mencegah osteoporosis dan osteoartritis.
Berenang juga sangat dianjurkan karena minim risiko cedera. Olahraga ini mampu memperkuat sendi dan otot, melatih pernapasan, serta meningkatkan kesehatan jantung.
Sementara itu, bersepeda dapat membantu memompa jantung dengan baik, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memperkuat otot kaki serta pinggul.
Baca Juga: Bunga Perbaiki Mood, Penguat Daya Ingat, dan Turunkan Stres
Bagi yang merasa bosan, alternatif lain seperti tai chi juga bisa dicoba. Seni bela diri asal Tiongkok ini mengandalkan gerakan lembut yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental, termasuk fungsi otak.
Bahkan, pendiri Alibaba, Jack Ma, dikenal rutin berlatih tai chi untuk menjaga kebugaran dan kejernihan pikirannya.
Selain olahraga fisik, aktivitas yang menantang strategi seperti bermain kartu bridge juga bermanfaat.
Penelitian dari University of Wisconsin–Madison menunjukkan bahwa permainan semacam ini dapat membantu mempertajam fungsi otak.
Kesimpulannya, di tengah kesibukan sehari-hari, meluangkan waktu berolahraga setidaknya 10 menit per hari dapat menjadi investasi sederhana namun berharga bagi kesehatan tubuh dan mental.
Baca Juga: Kelihatannya Sepele, Ini 8 Kesalahan Jalan Kaki yang Bikin Olahraga Jadi Sia-sia
Terutama bagi lansia, tetap aktif adalah kunci untuk memperlambat penurunan fungsi otak dan menurunkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. (*)
Editor : Miftahul Khair