PONTIANAK POST - Masalah asam lambung kerap dijadikan alasan untuk menjauh dari pola hidup sehat. Mulai dari tidak berolahraga, enggan berpuasa, hingga merasa wajib makan pagi karena takut keluhan kambuh.
Namun menurut Ade Rai, akar persoalannya tidak selalu terletak pada makanan, melainkan pada cara berpikir dan persepsi seseorang.
Dalam sesi edukasi kesehatan, Ade Rai pada kanal YouTube Malaka, menjelaskan bahwa tubuh manusia bekerja berdasarkan instruksi dari pikiran.
Saat seseorang mengasosiasikan telat makan, puasa, atau olahraga sebagai ancaman, tubuh akan otomatis masuk ke mode stres atau fight or flight. Kondisi ini justru membuat sistem pencernaan tidak bekerja optimal.
Baca Juga: Tak Bisa Puasa dan Olahraga karena Asam Lambung? Ini Cara Mengatasinya Menurut Ade Rai
“Ketika kita stres, tubuh tidak berada dalam mode rest and digest. Padahal, pencernaan hanya bisa bekerja optimal saat tubuh rileks,” jelasnya.
Ia meluruskan kesalahpahaman umum tentang asam lambung naik. Menurut Ade Rai, keluhan yang sering disebut sebagai asam lambung naik bukan disebabkan oleh produksi asam yang berlebihan, melainkan karena asam lambung berpindah tempat ke atas akibat katup lambung tidak tertutup sempurna.
Menariknya, katup lambung justru bisa menutup dengan baik ketika tubuh mampu memproduksi asam lambung dalam jumlah cukup, sesuatu yang hanya terjadi saat tubuh berada dalam kondisi tenang, bukan tertekan.
Ade Rai menegaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap puasa, makan, dan aktivitas fisik bisa menjadi kunci utama untuk memperbaiki keluhan lambung.
Baca Juga: Sering Stres? Waspada, Asam Lambung Bisa Naik Tanpa Disadari! Ini Penjelasan Medisnya
“Yang penting bukan sekadar apa yang kita makan, tapi bagaimana kita memaknai apa yang kita lakukan,” ujarnya. (*)
Editor : Miftahul Khair