PONTIANAK POST - Banyak orang berpikir minum air sebanyak mungkin adalah kunci kesehatan.
Namun Ade Rai justru mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut bisa menjadi bumerang jika tidak dilakukan dengan benar.
Dalam salah satu episode di kanal YouTube Dunia Ade Rai, Ade Rai membahas topik sederhana namun krusial yaitu cara minum air yang benar.
Ia menyoroti kecenderungan masyarakat yang terlalu fokus pada kuantitas tanpa memahami konteks kebutuhan tubuh.
Baca Juga: Ade Rai Luruskan Mitos Asam Lambung Sering Naik, Bukan Karena Telat Makan!
Pendekatan One Size Fits All Tidak Berlaku
Menurut Ade Rai, kebutuhan cairan dipengaruhi banyak faktor seperti:
- Aktivitas fisik
- Iklim
- Pola makan
- Kondisi kesehatan
Seseorang yang rutin olahraga di cuaca panas tentu membutuhkan cairan lebih banyak dibanding yang beraktivitas ringan di ruangan sejuk.
Baca Juga: 5 Manfaat Minum Air Putih untuk Tubuh, Bikin Sehat dan Berenergi
Mitos: Semakin Banyak Minum, Semakin Sehat
Ade Rai menyebut ini sebagai kesalahan umum. Terlalu banyak minum bisa mengencerkan elektrolit tubuh dan mengganggu keseimbangan sodium.
Tubuh memang cerdas dalam memberi sinyal haus, namun tetap perlu kesadaran untuk tidak berlebihan.
Kopi, teh, sirup, atau minuman bersoda bukan pengganti air putih. Efek diuretik pada beberapa minuman justru membuat cairan tubuh lebih cepat keluar. Air putih tetap menjadi standar utama hidrasi.
Selain itu, minum sambil makan dapat menurunkan efektivitas enzim dan asam lambung dalam memecah makanan. Idealnya, beri jeda antara makan dan minum.
Suhu dan Sumber Air Perlu Diperhatikan
Air suhu netral lebih ramah bagi sistem pencernaan. Selain itu, perhatikan juga kualitas sumber air, baik air kemasan maupun air ledeng.
Terakhir, bagi Ade Rai minum air adalah kebutuhan dasar, namun tetap memerlukan pemahaman.
Kesehatan bukan tentang mengikuti tren, tetapi tentang memahami tubuh sendiri. (*)
Editor : Miftahul Khair