PONTIANAK POST-Kebiasaan duduk terlalu lama kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tidak semua aktivitas duduk berdampak buruk. Justru, aktivitas yang melibatkan kerja otak saat duduk berpotensi menurunkan risiko demensia.
Dilansir dari HuffPost, penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine dengan melibatkan lebih dari 20 ribu orang dewasa di Swedia, sebagian besar perempuan. Peneliti mengumpulkan data sejak 1997 melalui kuesioner yang mengukur jenis aktivitas sedentari (kurang bergerak) para peserta.
Aktivitas tersebut dibagi menjadi dua kategori, yakni aktivitas pasif secara mental, seperti menonton televisi dan mendengarkan music, serta aktivitas aktif secara mental, seperti pekerjaan kantor, merajut, atau menjahit. Selain itu, peneliti juga mencatat tingkat aktivitas fisik peserta.
Baca Juga: Hari Tua Para Lansia di Kalimantan Barat: Antara Kemandirian, Keterbatasan, dan Harapan
Hampir dua dekade kemudian, para peserta dievaluasi untuk melihat apakah mereka mengalami demensia. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.
Aktivitas sedentari yang bersifat pasif secara mental, seperti menonton televisi, ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Sebaliknya, aktivitas yang tetap melibatkan kerja otak menunjukkan dampak yang lebih positif.
Peneliti menemukan bahwa setiap tambahan satu jam aktivitas duduk yang aktif secara mental setiap hari berkaitan dengan penurunan risiko demensia sebesar 4 persen. Bahkan, efek perlindungan ini lebih terasa pada kelompok usia 50 hingga 64 tahun.
Baca Juga: Pasien Lansia Diduga Terlantar di Puskesmas Sukadana, Warga Keluhkan Pelayanan Lamban
Temuan lain menunjukkan bahwa mengganti satu jam aktivitas pasif dengan aktivitas yang lebih aktif secara mental dapat menurunkan risiko demensia hingga 7 persen. Sementara itu, menambahkan satu jam aktivitas aktif, tanpa mengurangi aktivitas lain, dikaitkan dengan penurunan risiko hingga 11 persen.
Meski demikian, peneliti mengakui adanya sejumlah keterbatasan dalam studi ini. Salah satunya, penelitian dimulai pada 1997, jauh sebelum maraknya penggunaan ponsel pintar, media sosial, dan layanan streaming yang kini menjadi bagian dari aktivitas sedentari sehari-hari.
Profesor neurologi dari University of Southern California, Dr. Hussein Yassine, mengingatkan bahwa penggunaan ponsel dan media sosial yang cenderung pasif secara mental dapat memengaruhi kemampuan otak dalam berkonsentrasi.
Menurutnya, paparan berulang terhadap informasi secara pasif bisa mengganggu kemampuan otak dalam memproses informasi dan membentuk koneksi saraf yang penting untuk fokus. Akibatnya, seseorang menjadi kurang optimal saat menghadapi tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Baca Juga: Dinamika Lansia Mengadopsi Budaya Digital
Keterbatasan lain dari studi ini adalah tidak adanya penilaian fungsi kognitif di awal penelitian. Hal ini memungkinkan adanya bias, karena sebagian peserta mungkin sudah mengalami gejala awal demensia sejak awal.
Sementara itu, pakar kesehatan dari George Washington University, Dr. Leana Wen, menilai bahwa salah satu alasan di balik temuan ini adalah karena otak membutuhkan tantangan.
“Stimulasi kognitif membantu menjaga koneksi saraf dan mendukung apa yang disebut cadangan kognitif, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.
Baca Juga: Usia Harapan Hidup di Pontianak Tertinggi di Kalbar, Pemerintah Harap Lansia Tetap Produktif
Menurut Wen, aktivitas yang minim tantangan mental dalam jangka panjang dapat membuat jalur saraf kurang terlatih. Dalam waktu lama, kondisi ini berpotensi memicu penurunan fungsi memori dan kemampuan berpikir.
Namun, ia menegaskan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Bisa jadi, individu dengan fungsi kognitif yang lebih baik sejak awal memang lebih cenderung memilih aktivitas yang merangsang otak.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa menjaga kesehatan otak tidak cukup hanya dengan aktivitas fisik, tetapi juga perlu diimbangi dengan aktivitas yang menantang secara mental.
Baca Juga: Fikih Bahagia Lansia: Jalan Menuju Husnul Khatimah
Direktur Cleveland Clinic Lou Ruvo Center for Brain Health, Dr. Dylan Wint, menyarankan berbagai cara sederhana untuk melatih otak, seperti bermain gim asah otak, mempelajari hobi baru, mengikuti kelas, hingga belajar bahasa atau alat musik.
“Yang terpenting adalah aktivitas tersebut memberi tantangan dan membuat Anda terus belajar,” ujarnya. (*)
Editor : Chairunnisya