Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bukan Sekadar Salah Tidur, Nyeri Leher Menjalar Bisa Berujung Kelumpuhan!

Chairunnisya • Jumat, 17 April 2026 | 20:12 WIB
Ilustrasi wanita sedang bekerja (JAWAPOS)
Ilustrasi wanita sedang bekerja (JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Banyak orang menganggap sepele rasa kaku atau sakit di area leher. Padahal, jika nyeri tersebut disertai kesemutan hingga ke lengan atau otot tangan yang melemah, itu bisa menjadi sinyal kuat serangan Cervical Syndrome.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Ciputra Hospital Surabaya, dr. Nanda Aulya Ramadan, Sp.K.F.R., menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan gangguan pada tulang belakang servikal.

Gejalanya bukan sekadar pegal biasa, melainkan rasa tebal di lengan, sulit menggenggam, hingga kulit lengan yang mengering dan pecah-pecah.

"Kalau nyeri menetap, menjalar, atau lemah saat menggenggam, itu yang perlu diwaspadai," ujar dr. Nanda, yang juga berpraktik di RS Universitas Airlangga (RSUA), dikutip dari Jawapos.

Gaya Hidup Modern Jadi Pemicu Utama

Dulu, masalah tulang belakang identik dengan lansia karena faktor degeneratif. Namun kini, pasien usia muda makin banyak yang mengeluh gejala serupa.

Baca Juga: Waspada! Leher Menghitam Bisa Jadi Sinyal Prediabetes, Ini Penjelasan Medisnya

Penyebabnya? Gaya hidup sedentary alias kurang gerak, seperti duduk terlalu lama di depan komputer atau menatap layar gawai tanpa jeda.

"Stres juga membuat otot lebih mudah kaku. Jika jarang olahraga atau stretching, otot leher akan cepat tegang dan memicu tekanan pada saraf," tambahnya.

Risiko Saraf Terjepit hingga Lumpuh

Jika dibiarkan tanpa penanganan medis, Cervical Syndrome dapat berkembang menjadi saraf terjepit permanen, gangguan keseimbangan, hingga risiko kelumpuhan.

Segera periksakan diri jika nyeri leher tidak membaik dalam 3 hari atau skala nyerinya sudah mencapai tingkat sedang ke atas.

Solusi Tanpa Operasi dan Larangan "Crack" Leher

Meski terdengar menakutkan, sebagian besar kasus bisa sembuh tanpa meja operasi. Penanganannya fokus pada fisioterapi, perbaikan postur, dan latihan penguatan otot leher.

Baca Juga: Bangun Tidur Sakit Leher? Bisa Jadi Ini Gejala Penyakit Berbahaya

Namun, dr. Nanda memberikan peringatan keras terkait kebiasaan membunyikan leher sendiri (crack). "Gerakan memutar leher sembarangan bisa melukai sendi dan mencederai saraf. Lebih aman lakukan stretching ringan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar penggunaan neck brace (penyangga leher) harus sesuai instruksi dokter agar otot leher tidak makin melemah.

Investasi Jangka Panjang: Perbaiki Postur

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Dr. Nanda menyarankan langkah sederhana saat bekerja. Pertama, posisi duduk dengan punggung tegak, bahu rileks, dan layar sejajar mata.

Kedua, istirahat berkala. Ambil jeda setiap 30–60 menit untuk menggerakkan leher dan bahu selama 2–3 menit. Ketiga, gunakan bantal yang menopang leher dengan baik, tidak terlalu tinggi atau keras.

"Menjaga postur itu investasi jangka panjang. Jangan tunggu sampai terlambat dan saraf Anda tercedera," pungkasnya. (*)

Editor : Chairunnisya
#saraf #cedera #leher #nyeri #kesehatan