Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Curhat ke AI Bisa Picu Ketergantungan Emosional

Chairunnisya • Sabtu, 18 April 2026 | 18:48 WIB
Ilustrasi  ChatGPT (JAWAPOS)
Ilustrasi ChatGPT (JAWAPOS)

 

PONTIANAK POST - Semakin banyak orang kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT dan Gemini untuk berbagi cerita. Mereka merasa nyaman, seolah berbincang dengan manusia, tanpa khawatir rahasia yang disampaikan akan tersebar.

Menurut dr. Angelina Tulus, SpKJ, dokter spesialis jiwa, fenomena ini tergolong wajar. Namun, ia menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan hubungan sosial di dunia nyata.

“AI memang bisa menanggapi curahan hati dengan cepat dan tanpa stigma. Tetapi, hubungan antarmanusia melibatkan emosi, nurani, dan interaksi timbal balik yang tidak bisa diberikan AI,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan untuk didengar, diterima, dan dipahami. Dalam Hierarki Kebutuhan Maslow, kebutuhan ini termasuk aspek dasar yang penting. AI mampu memberikan kesan pemenuhan kebutuhan tersebut karena tersedia 24 jam, mudah diakses, dan merespons tanpa menghakimi.

Baca Juga: Huawei Siapkan Teknologi Mutakhirnya untuk Pengembangan Kecerdasan Buatan di Masa Pandemi Covid-19

“Pengguna merasa aman karena tidak perlu membuka rahasia kepada orang lain. Ditambah lagi, jawaban AI sering terasa sesuai harapan, meski sebenarnya bersifat umum dan normatif,” jelasnya.

Meski demikian, Angelina mengakui curhat ke AI memiliki sisi positif. Respons cepat dapat membantu meredakan stres atau rasa kesepian dalam jangka pendek. Bahkan, AI terkadang menyarankan pengguna untuk mencari bantuan profesional jika masalah yang dihadapi lebih kompleks.

Namun, penggunaan berlebihan justru berisiko. Respons instan yang menyenangkan dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yang jika berulang bisa menimbulkan ketergantungan.

“Orang bisa merasa hanya AI yang memahami dirinya,” katanya.

Dampak lainnya adalah menurunnya kemampuan bersosialisasi. Respons AI yang terasa empatik bisa menciptakan ekspektasi tidak realistis terhadap interaksi manusia. Akibatnya, seseorang mudah kecewa saat menghadapi respons nyata yang tidak selalu sesuai harapan.

Baca Juga: Ketika ChatGPT Ditanya Seputar Isra Miraj, Begini Respon dan Jawabannya

Bagi individu dengan gangguan kesehatan mental, kebiasaan ini bahkan berpotensi menunda penanganan medis. AI tidak dapat menggantikan peran psikiater dalam terapi, terutama untuk kasus seperti depresi berat, kecemasan, atau gangguan kepribadian.

Angelina mengingatkan agar masyarakat menggunakan AI secara bijak. AI dapat dimanfaatkan sebagai penenang sementara, tetapi bukan solusi utama.
“Jika gejala semakin berat, menetap, atau muncul keinginan menyakiti diri, segera cari bantuan profesional,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa jawaban AI bersifat simulasi berbasis data umum, bukan pendekatan personal. Karena itu, pengguna perlu tetap kritis dalam memaknai setiap respons yang diberikan.

Ke depan, fenomena ini diperkirakan akan semakin berkembang. Oleh sebab itu, diperlukan kesadaran masyarakat serta regulasi yang jelas agar penggunaan AI dalam kesehatan mental tidak disalahartikan.

Baca Juga: UI Buka Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial, Netizen: "Gas Jadi Dosen Mas Wapres"

“Secanggih apa pun AI, tetap tidak bisa menggantikan kompleksitas perasaan manusia. Bantuan nyata selalu ada, asalkan kita berani mencarinya,” pungkasnya. (*)

Editor : Uray Ronald
#kecerdasan buatan #gemini #ChatGPT #psikiater #kejiwaan