Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pola Makan Usia 40 Tahun untuk Kesehatan Jangka Panjang

Chairunnisya • Sabtu, 18 April 2026 | 19:19 WIB
Ilustrasi  perempuan makan sayur (JAWAPOS)
Ilustrasi perempuan makan sayur (JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Memasuki usia 40 tahun, tujuan diet tidak lagi sekadar penampilan. Lebih dari itu, pola makan berperan penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang dan memperlambat proses penuaan.

Di usia ini, tubuh mulai mengalami berbagai perubahan fisiologis. Metabolisme melambat, massa otot berkurang, sensitivitas insulin menurun, hingga fungsi pencernaan dan indra perasa tidak lagi seoptimal saat muda. Karena itu, pola makan perlu disesuaikan.

Registered Dietitian Mochammad Rizal MS RD menegaskan, diet di usia 40+ harus berfokus pada keseimbangan gizi, bukan diet ekstrem.

“Tujuannya bukan sekadar menurunkan berat badan, tetapi menjaga fungsi tubuh tetap optimal,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Beberapa pola makan yang direkomendasikan antara lain diet Mediterania, diet tinggi protein, dan diet DASH. Diet Mediterania menekankan konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, ikan, dan minyak zaitun, serta membatasi gula dan daging merah. Sementara diet tinggi protein penting untuk menjaga massa otot yang mulai menyusut.

Baca Juga: 10 Cara Ampuh Redam "Food Noise" Tanpa Obat Diet

“Kebutuhan protein meningkat, minimal 1–1,2 gram per kilogram berat badan per hari, bahkan bisa lebih jika aktif berolahraga,” jelas Rizal.

Adapun diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dirancang untuk membantu mengontrol tekanan darah dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, dan produk rendah lemak, serta membatasi garam dan gula.

Selain jenis diet, komposisi zat gizi juga harus diperhatikan. Karbohidrat tetap diperlukan, tetapi sebaiknya berasal dari sumber kompleks tinggi serat seperti nasi merah, oat, kentang, dan roti gandum. Lemak sehat dari ikan, alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun juga penting, sementara lemak trans dari makanan olahan sebaiknya dihindari.

Untuk pola makan harian, Rizal menyarankan prinsip sederhana: setiap makan mengandung protein, sayur diperbanyak, karbohidrat secukupnya, dan lemak sehat. Konsep “Isi Piringku” dapat menjadi panduan, yakni setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat, dan seperempat protein.

Baca Juga: Diet Efektif Tanpa Lapar dan Lemas: 3 Tips Agar Tubuh Sehat dan Bertenaga

Ia juga mengingatkan agar tidak menjalani diet ekstrem, seperti makan sangat rendah kalori, hanya sekali sehari, atau menghilangkan kelompok makanan tertentu. “Diet seperti itu bisa menurunkan massa otot, mengganggu hormon, dan menyebabkan kekurangan gizi,” tegasnya.

Meski demikian, makanan favorit tetap boleh dikonsumsi, selama tidak berlebihan. “Pendekatan ilmiah tidak melarang total, karena justru bisa memicu stres. Yang penting terkontrol,” katanya.

Rizal menyarankan menikmati makanan favorit setelah makan utama agar porsinya lebih kecil. Ia menekankan, kunci utama diet di usia 40+ adalah keseimbangan, konsistensi, dan kesadaran menjaga kesehatan jangka panjang. (*)

Editor : Chairunnisya
#Usia 40 tahun ke atas #diet #pola makan #kesehatan #makanan