Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kenali Laryngopharyngeal Reflux Penyakit Silent Reflux yang Sering Terabaikan

Chairunnisya • Rabu, 22 April 2026 | 20:06 WIB
Ilustrasi perempuan batuk (JAWAPOS)
Ilustrasi perempuan batuk (JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Penyakit refluks tidak selalu ditandai keluhan pada lambung. Salah satu yang kerap luput disadari adalah laryngopharyngeal reflux (LPR) atau refluks laringofaring.

Meski sering disamakan dengan GERD, kondisi ini memiliki gejala yang berbeda.

Dokter spesialis THT-BKL RSUD dr Soetomo, Dr. dr. Rizka Fathoni Perdana, Sp.THTBKL Subsp.BE(K), menjelaskan bahwa LPR terjadi ketika asam lambung naik hingga ke saluran pernapasan bagian atas, seperti laring dan faring.

“Cairan lambung mengenai jaringan tenggorok sehingga menimbulkan peradangan dan perubahan pada selaput lendir,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Batuk Tak Kunjung Sembuh? Coba 5 Obat Alami di Rumah yang Direkomendasikan Medis!

Perbedaan LPR dan GERD

Berbeda dengan GERD yang identik dengan rasa panas di dada (heartburn), LPR justru lebih sering menimbulkan keluhan di tenggorok. Gejalanya meliputi suara parau, batuk kronis, sering berdehem, hingga sensasi mengganjal di tenggorok.

Karena tidak selalu disertai gejala khas lambung, LPR sering disebut sebagai silent reflux. Kondisi ini bahkan bisa terjadi tanpa adanya GERD.

“LPR lebih sering muncul pada siang hari, berbeda dengan GERD yang biasanya terjadi saat malam atau posisi berbaring,” jelas Rizka.

Penyebab Utama

Penyebab utama LPR adalah gangguan pada katup esofagus bagian atas yang seharusnya mencegah asam lambung naik. Jaringan saluran napas atas yang sensitif membuat paparan asam dalam jumlah kecil pun sudah dapat memicu kerusakan.

Baca Juga: Cara Ampuh Mengatasi Batuk Berdahak Secara Alami: Bahan Mudah Didapat dan Manjur

Sejumlah faktor dapat memperparah kondisi ini, seperti konsumsi makanan pedas, asam, berlemak, cokelat, hingga peppermint. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres, penggunaan pakaian ketat, serta kelebihan berat badan juga meningkatkan risiko.

Dampak Jangka Panjang

Jika tidak ditangani, LPR dapat menurunkan kualitas hidup.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menyebabkan komplikasi seperti radang amandel kronis, sinusitis, infeksi telinga tengah, hingga meningkatkan risiko kanker laring, terutama pada perokok.

Rizka menyarankan segera memeriksakan diri ke dokter THT jika muncul gejala berat, seperti sulit menelan, nyeri saat menelan, sering tersedak, penurunan berat badan tanpa sebab, hingga benjolan di leher.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan laringoskopi guna melihat kondisi pita suara dan jaringan sekitarnya.

Baca Juga: Musim Hujan Tiba, 3 Bahan Dapur Ini Jadi Jurus Ampuh Redakan Batuk dan Pilek

Penanganan LPR

Penanganan LPR dilakukan secara bertahap, mulai dari perubahan gaya hidup, pengaturan pola makan, hingga terapi obat. Salah satu terapi utama adalah penggunaan obat penekan asam lambung yang dikonsumsi selama enam hingga 12 minggu.

“Banyak kasus ringan dapat membaik hanya dengan mengubah gaya hidup, seperti menghindari makanan pemicu, berhenti merokok, rutin berolahraga, dan tidak makan dua jam sebelum tidur,” jelasnya.

Meski dapat dikendalikan, LPR berpotensi kambuh jika pemicunya tidak dihindari. Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi kunci utama agar gejala tidak kembali dan kualitas hidup tetap terjaga. (*)

Editor : Chairunnisya
#batuk #tips kesehatan #batuk dan pilek #gerd