PONTIANAK POST - Saluran cerna memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan manusia secara menyeluruh. Lambung yang “tenang” menjadi salah satu kunci keseimbangan tubuh, karena berkaitan erat dengan sistem saraf pusat.
Hubungan ini dikenal sebagai gut-brain axis, yang membuat saluran cerna kerap dijuluki sebagai “otak kedua”.
Menurut Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, MS, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, kondisi saluran cerna yang sehat berpengaruh besar terhadap fungsi otak, suasana hati, hingga kualitas tidur.
Gerak peristaltik yang optimal memungkinkan penyerapan nutrisi berlangsung maksimal. Nutrisi ini penting untuk pertumbuhan sel otak dan fungsi mielin yang melindungi serat saraf.
Baca Juga: 7 Cara Alami Melembapkan Kulit Kering Menurut Kemenkes: dari Air Mineral hingga Lidah Buaya
Ketika hubungan antara saluran cerna dan otak terjaga dengan baik, manfaat yang dirasakan antara lain konsentrasi lebih baik, emosi lebih stabil, pikiran jernih, hingga tidur lebih nyenyak.
Gangguan yang Kian Meningkat
Sayangnya, gangguan saluran cerna kini semakin sering terjadi, baik pada usia muda maupun lanjut. Dua masalah yang paling umum adalah gastritis (radang lambung) dan gastroesophageal reflux disease (GERD).
Gastritis terjadi akibat terganggunya keseimbangan sistem lambung, seperti produksi asam, lapisan pelindung (mukus), mikrobiota, hingga gerak peristaltik.
Sementara itu, GERD muncul ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan akibat katup lambung yang tidak berfungsi optimal.
Gejala GERD meliputi sensasi terbakar di dada, rasa pahit di mulut, nyeri ulu hati, mual, hingga kesulitan menelan. Dalam banyak kasus, gastritis dapat memperburuk kondisi GERD.
Baca Juga: Daftar Bahan Herbal Alami Pencegah Kerusakan Kulit Akibat Sinar Matahari
Ubah Pola Hidup, Redakan Gejala
Pencegahan GERD dapat dimulai dari perubahan gaya hidup. Pola makan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Makanlah dalam porsi kecil namun teratur, kunyah makanan secara perlahan, dan beri jeda 2–3 jam sebelum berbaring. Selain itu, penting untuk mengenali makanan pemicu, seperti makanan berlemak dan rempah pedas.
Pendekatan ini dapat membantu mengurangi tekanan pada lambung, memperbaiki fungsi katup, serta meredakan iritasi yang memicu naiknya asam lambung (acid reflux).
Peran Herbal untuk GERD Ringan
Pada kondisi GERD ringan—misalnya terjadi 2–3 kali dalam seminggu tanpa tanda bahaya—penggunaan obat herbal dapat menjadi pilihan sebelum beralih ke obat medis.
Herbal mengandung senyawa aktif seperti flavonoid dan polifenol yang berperan sebagai antiinflamasi, antioksidan, serta pelindung lapisan mukosa kerongkongan. Senyawa ini membantu mengurangi peradangan dan kerusakan akibat radikal bebas.
Beberapa bahan herbal yang dapat dimanfaatkan antara lain temulawak, kunyit, adas, jahe, kayu legi, lidah buaya, dan kamomila.
Lidah Buaya, Perlindungan Alami Saluran Cerna
Lidah buaya semakin dikenal sebagai herbal yang membantu meredakan gejala GERD. Gel di dalam daunnya mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti aloin, aloe-emodin, polisakarida, dan flavonoid.
Baca Juga: 4 Resep Minuman Herbal Ampuh Tingkatkan Imunitas Tubuh Alami Saat Musim Hujan
Kandungan ini bekerja sebagai antiinflamasi, antioksidan, serta pelindung saluran cerna. Studi klinis menunjukkan bahwa sirup lidah buaya mampu memperbaiki gejala GERD seperti rasa terbakar di dada, mual, dan muntah, bahkan tanpa efek samping.
Selain produk siap konsumsi, minuman lidah buaya buatan sendiri juga dapat menjadi pilihan, dengan catatan bagian tepi daun harus dibuang terlebih dahulu.
Kamomila untuk Redakan Stres
Bunga kamomila juga bermanfaat untuk meredakan gejala GERD ringan, terutama yang dipicu oleh stres. Biasanya dikonsumsi dalam bentuk teh, kamomila memiliki efek antiradang ringan sekaligus menenangkan (calming effect).
Baca Juga: Bye-bye Hidung Tersumbat! Redakan Sinusitis dengan 7 Bahan Alami Ini
Penelitian menunjukkan bahwa kamomila memiliki sifat ansiolitik alami, yaitu membantu meredakan kecemasan dengan risiko efek samping yang lebih rendah dibanding obat kimia.
Kayu Legi, Aman untuk Konsumsi Terbatas
Kayu legi atau licorice juga dapat digunakan untuk meredakan GERD ringan, khususnya jenis deglycyrrhizinated licorice (DGL). Jenis ini telah diolah untuk menghilangkan senyawa glycyrrhizine yang berpotensi menimbulkan efek samping.
DGL dinilai lebih aman karena tidak memengaruhi tekanan darah, keseimbangan hormon, maupun elektrolit tubuh.
Sebaliknya, penggunaan licorice biasa dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan seperti retensi cairan, tekanan darah tinggi, hingga gangguan irama jantung.
Karena itu, kayu legi sebaiknya hanya digunakan dalam jangka pendek dan tidak dianjurkan untuk GERD kronis. (*)
Editor : Chairunnisya