PONTIANAK POST - Teh kumis kucing telah lama dikenal sebagai salah satu herbal diuretik atau peluruh air seni yang populer, bahkan hingga mancanegara.
Tanaman ini mendapat julukan “Java tea” dan telah tercantum dalam berbagai buku formularium obat di Eropa.
Dilansir dari Jawapos, menurut Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, M.S., Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, penelitian ilmiah dengan teknologi terkini semakin memperkuat khasiat tanaman ini.
Studi menunjukkan bahwa daun kumis kucing mengandung puluhan senyawa aktif yang bekerja pada berbagai titik target, serupa dengan mekanisme obat diuretik modern.
Baca Juga: Minum Kopi Tak Sekadar Bikin Melek, Dokter Ungkap Manfaatnya untuk Ginjal
Beberapa reseptor yang menjadi sasaran kerja senyawa tersebut antara lain reseptor furosemide, acetazolamide, hingga spironolactone.
Tercatat ada sekitar 98 senyawa aktif dalam tanaman ini, termasuk lithospermic acid I, dicaffeoyl tartaric acid, dan orthosiphonone C yang memiliki ikatan spesifik layaknya obat sintetis.
Hasil penelitian terbaru pada 2025 menunjukkan bahwa daun kumis kucing memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai diuretik alami.
Efeknya yang ringan dan bertahap membuatnya cocok dikonsumsi sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, terutama bagi mereka yang kurang minum atau sering mengonsumsi makanan tinggi garam.
Baca Juga: Tips Jaga Kesehatan Ginjal dengan Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat
Herbal ini membantu ginjal bekerja lebih efisien tanpa memberikan rangsangan berlebihan.
Pegagan dan Perlindungan Ginjal
Selain kumis kucing, tanaman pegagan juga mulai mendapat perhatian dalam dunia kesehatan ginjal, meski belum banyak dikenal masyarakat. Pegagan bekerja melalui mekanisme antiradang, antioksidan, dan antifibrotik.
Kandungan utamanya, seperti asiatic acid dan madecassoside, diyakini mampu melindungi ginjal dari kerusakan akut, memperlambat progres kerusakan ginjal kronik, serta mencegah kerusakan akibat diabetes.
Sejumlah studi telah dilakukan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium tertentu yang belum menjalani dialisis. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pegagan mampu memperbaiki kondisi klinis secara signifikan.
Manfaat yang teramati antara lain peningkatan fungsi ginjal, penurunan albuminuria (kadar albumin dalam urin), serta peningkatan kadar Klotho yang berkaitan dengan kualitas hidup pasien.
Baca Juga: Mitos atau Fakta, Konsumsi Obat Bisa Merusak Ginjal? Ini Penjelasan Dokter
Pegagan juga berperan dalam meningkatkan sirkulasi mikro, sehingga distribusi darah dalam jaringan ginjal menjadi lebih merata. Hal ini mendukung proses penyaringan dan pengaturan fungsi ginjal agar berjalan lebih optimal.
Untuk penggunaan jangka panjang, pegagan segar lebih dianjurkan sebagai pendamping perawatan ginjal secara holistik. (*)
Editor : Chairunnisya