Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hobi Lari Maraton? Kenali Risikonya, Dokter Ungkap Bahaya Olahraga Berlebihan bagi Kesehatan Jantung

Miftahul Khair • Kamis, 23 April 2026 | 14:51 WIB
Ilustrasi foto pada event lari.
Ilustrasi foto pada event lari.

 

PONTIANAK POST - Olahraga sering dianggap sebagai kunci utama hidup sehat. Semakin berat latihan yang dilakukan, tak sedikit orang mengira hasilnya akan semakin baik.

Namun faktanya, olahraga yang dilakukan secara berlebihan justru bisa membawa risiko, terutama bagi kesehatan jantung. Kunci utamanya bukan pada seberapa berat, melainkan seberapa tepat dilakukan.

Dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO), dr Michael Triangto, Sp.KO, mengingatkan bahwa aktivitas fisik yang berlebihan dapat berdampak negatif bagi tubuh.

Salah satu risikonya adalah meningkatnya produksi radikal bebas yang bisa merusak organ, termasuk jantung.

Baca Juga: Hindari Cedera, Ini Teknik dan Persiapan Olahraga Lari yang Aman dan Nyaman

Dampak Olahraga pada Jantung

Menurut dr Michael, olahraga berat yang dilakukan tanpa kontrol dapat memicu produksi radikal bebas dalam jumlah tinggi. Dalam kondisi tertentu, hal ini justru berbahaya bagi tubuh.

“Dengan demikian, hal ini (olahraga berlebihan) dapat menimbulkan radikal bebas yang sangat berlebihan yang dampaknya malah merusak jantung,” kata Michael dilansir dari Antara.

Baca Juga: Apakah Lari Bisa Bikin Kurus? Begini Penjelasan Dokter

Jenis Olahraga yang Dianjurkan

Untuk menjaga kesehatan jantung, Michael menyarankan olahraga kardio atau aerobik. Jenis olahraga ini dilakukan dengan gerakan berulang, intensitas ringan, dan durasi yang cukup panjang.

Beberapa contoh aktivitas yang direkomendasikan antara lain berjalan kaki, bersepeda, berenang, mendaki, jogging, hingga lari dengan intensitas sedang.

Risiko Olahraga Intensitas Tinggi

Meski memiliki manfaat, olahraga berat seperti lari maraton tetap memiliki risiko jika tidak dilakukan dengan persiapan matang. Michael juga menyoroti adanya kasus kematian mendadak dalam ajang lomba lari jarak jauh.

"Masyarakat bahkan masih kerap berpikir bahwa olahraga yang semakin berat maka semakin sehat. Padahal, anggapan tersebut tidak benar," katanya.

Ia menambahkan bahwa peserta nonprofesional lebih rentan mengalami masalah karena sering kali belum memahami batas kemampuan diri.

Persiapkan Fisik Sebelum Lomba

Michael menegaskan bahwa olahraga, terutama yang bersifat kompetitif seperti half-marathon dan maraton, membutuhkan persiapan yang serius.

"Secara umum, olahraga memang baik untuk kesehatan, namun, perlu digarisbawahi bahwa aktivitas olahraga juga harus dilakukan secara tepat dan dipersiapkan secara baik," katanya.

Baca Juga: Olahraga Lari tidak Disarankan untuk Orang dengan Obesitas, Ini Penjelasan Dokter

Ia menyarankan tiga jenis pemeriksaan sebelum mengikuti lomba lari, yakni elektrokardiogram (EKG) untuk memantau aktivitas listrik jantung, tes treadmill untuk menilai kinerja jantung saat beraktivitas, serta pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Selain kesiapan individu, penyelenggara lomba juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan peserta.

“Apakah (lomba lari) cuma orang-orang yang benar-benar sehat saja yang boleh? Betul. Kalau dia sakit (punya riwayat), tapi (sekarang) dalam kondisi sehat, ingin ikut cuma sekadar partisipasi saja, boleh. Di situlah bukan hanya dokter yang memeriksa, panitia harus menyediakan saran-sarana pertandingan yang sesuai dengan yang bersangkutan,” terang Michael.

Panitia diharapkan menyediakan tenaga medis di setiap pos, ambulans yang memadai, serta memastikan ketersediaan air bagi peserta. Selain itu, peserta juga perlu melampirkan surat keterangan sehat yang valid.

Baca Juga: 5 Olahraga Ini Bakar Kalori Lebih Banyak dari Lari, Efektif Turunkan Berat Badan

Michael juga menyarankan adanya pengelompokan peserta berdasarkan kategori tertentu, seperti usia, jenis kelamin, hingga tingkat kemampuan (profesional dan nonprofesional).

Langkah ini dinilai penting agar kondisi kesehatan peserta lebih mudah dipantau dan risiko dapat diminimalkan.

Olahraga Sehat Bukan yang Terberat

Pada akhirnya, olahraga tetap penting untuk menjaga kesehatan. Namun, melakukannya secara berlebihan tanpa persiapan justru bisa menjadi bumerang.

Memahami batas tubuh dan melakukan persiapan yang tepat adalah kunci agar manfaat olahraga benar-benar bisa dirasakan tanpa menimbulkan risiko. (*)

Editor : Miftahul Khair
#olahraga berlebihan #lari #kesehatan jantung #maraton