PONTIANAK POST - Penyakit seperti hipertensi, kini tak lagi identik dengan usia lanjut. Di usia produktif, ancaman ini justru semakin sering muncul dan kerap datang tanpa gejala yang jelas.
Kondisi ini patut diwaspadai karena dapat menjadi pintu masuk berbagai masalah serius, mulai dari gangguan jantung hingga penyakit pembuluh darah.
Salah satu pemicunya yang sering luput disadari adalah konsumsi garam berlebih dalam makanan sehari-hari.
Baca Juga: Sering Begadang? Dokter Ungkap Kurang Tidur Ternyata Bisa Bikin Berat Badan Naik
Spesialis gizi klinik RS Premier Bintaro, dr Yohan Samudra, SpGK, AIFO-K, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap hipertensi sebagai salah satu penyakit degeneratif yang banyak menyerang kelompok usia produktif.
Menurut dr Yohan, hipertensi termasuk kondisi yang kerap tidak disadari penderitanya karena sering muncul tanpa tanda khusus. Padahal, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah yang serius.
Karena itu, pencegahan sejak dini menjadi langkah penting, terutama melalui pola makan yang lebih sehat dan terkontrol.
Baca Juga: Waspada Penuaan Dini di Usia 20-an, Dokter Ungkap Penyebab dan Cara Mencegahnya
Orang Indonesia Masih Konsumsi Tinggi Garam
Ia menyoroti kebiasaan konsumsi garam masyarakat Indonesia yang masih jauh di atas batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Rata-rata orang Indonesia mengonsumsi garam dua kali lipat dari rekomendasi WHO, yakni 5 gram per hari. Bahkan lima dari sepuluh orang melampaui angka tersebut,” kata Yohan dikutip dari Antara.
Tingginya asupan garam ini dinilai menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko hipertensi dan penyakit degeneratif lainnya.
Kampanye "Bijak Garam" Jadi Solusi Sederhana
Peringatan tersebut sejalan dengan kampanye “Bijak Garam” yang digaungkan dalam forum tersebut. Kampanye ini mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan garam tanpa harus mengorbankan rasa makanan.
Pendekatan sederhana ini dinilai efektif untuk membantu menurunkan risiko penyakit tidak menular, khususnya di kalangan pekerja yang rentan mengalami pola hidup kurang sehat akibat rutinitas kerja. (*)
Editor : Miftahul Khair