PONTIANAK POST - Banyak orang menganggap mata minus sekadar gangguan ringan yang bisa diatasi dengan kacamata. Padahal, pada level tertentu, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah serius yang mengancam penglihatan.
Mata minus atau miopia menjadi perhatian karena dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat, terutama ketika sudah masuk kategori miopia tinggi.
Kondisi ini terjadi ketika refraksi mata mencapai -6.00 dioptri (D) ke atas atau panjang aksial bola mata lebih dari 26 mm. Hal tersebut disampaikan oleh dr Sauli Ari Widjaja SpM(K) PhD, dokter spesialis mata.
’’Beberapa literatur juga menyebutkan -5.00 D hingga -6.00 D sebagai ambang batas miopia tinggi,’’ kata dr Sauli Ari Widjaja SpM(K) PhD, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Mata Bengkak Bisa Jadi Tanda Masalah Kesehatan Serius, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Penyebab Miopia Tinggi
Menurut Sauli, miopia tinggi tidak muncul begitu saja. Penyebabnya merupakan kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. Riwayat keluarga dengan mata minus tinggi menjadi salah satu indikator kuat.
Namun, pola hidup juga memegang peranan penting, seperti kebiasaan membaca yang kurang tepat, terlalu lama menatap layar gawai, serta minimnya aktivitas di luar ruangan.
Lingkungan tempat tinggal juga turut memengaruhi. Kawasan perkotaan yang padat dan minim ruang terbuka meningkatkan risiko terjadinya miopia.
’’Paparan sinar matahari alami minimal dua jam sehari terbukti memiliki efek protektif terhadap progresivitas miopia, terutama pada anak dan remaja,’’ ungkap dokter mata RSUD Soetomo itu.
Baca Juga: Mata Anda Berharga! 5 Tips Penting untuk Menjaga Kesehatan Mata
Kondisi ini paling sering berkembang pada masa pertumbuhan, yakni pada anak-anak dan remaja. Mereka yang terbiasa menatap layar dalam waktu lama tanpa jeda atau jarang beraktivitas di luar ruangan lebih rentan mengalami peningkatan minus.
’’Progresivitas cenderung melambat setelah usia 20–25 tahun, namun pada beberapa kasus bisa terus berlanjut hingga dewasa,’’ imbuhnya.
Dampak Tidak Ringan
Secara medis, miopia tinggi menyebabkan bola mata mengalami peregangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak struktur penting mata seperti retina, koroid, dan sklera.
Dampaknya tidak ringan, mulai dari degenerasi retina, lepasnya retina (ablasio), hingga penurunan penglihatan permanen bahkan kebutaan.
’’Miopia tinggi bisa menyebabkan kebutaan melalui proses degeneratif seperti ablasio retina atau kerusakan makula yang tidak tertangani,’’ tegasnya.
Sayangnya, penggunaan kacamata atau lensa kontak hanya berfungsi memperbaiki penglihatan, bukan menghentikan proses peregangan bola mata.
Baca Juga: Cara Efektif Menjaga Kesehatan Mata Secara Alami, Lakukan 6 Kebiasaan Ini Mulai Hari Ini
’’Kacamata tidak bisa mencegah degenerasi retina atau memperbaiki anatomi mata yang memanjang akibat miopia tinggi,’’ kata dokter yang juga berpraktik di Ilhan Eye Center dan RSIA Ferina itu.
Karena itu, penderita miopia tinggi disarankan menjalani pemeriksaan mata secara rutin, setidaknya satu kali dalam setahun.
Pemeriksaan ini mencakup tekanan bola mata, kondisi retina, serta saraf optik untuk mendeteksi dini kemungkinan komplikasi seperti glaukoma atau makulopati miopik.
Terkait penanganan, sebagian penderita mungkin mempertimbangkan operasi refraktif seperti LASIK. Namun, keputusan tersebut tidak bisa diambil sembarangan.
Evaluasi menyeluruh oleh dokter diperlukan, termasuk menilai ketebalan kornea, stabilitas minus, serta risiko dan manfaat prosedur.
’’Penting untuk memahami bahwa operasi ini hanya untuk koreksi penglihatan, bukan untuk menyembuhkan kondisi mata minus tinggi atau menghilangkan risiko komplikasi,’’ pungkasnya. (*)
Editor : Chairunnisya