PONTIANAK POST - Stroke masih menjadi salah satu ancaman kesehatan paling serius di Indonesia.
Banyak orang baru panik saat pasien sudah mengalami kelumpuhan berat, padahal penanganan pertama justru sangat menentukan peluang pemulihan.
Apa yang harus dilakukan ketika seseorang tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda stroke? Jawabannya adalah memahami langkah cepat yang dikenal dengan istilah 3T dan segera memanfaatkan golden time agar penanganan tidak terlambat.
Baca Juga: Ambeien Bisa Sembuh Tanpa Operasi Jika Gaya Hidup Diperbaiki
Dokter spesialis saraf dr. Indah Aprianti Putri, Sp.S, MSc (stroke-Med) mengingatkan masyarakat agar memahami langkah awal saat orang terdekat mengalami serangan stroke.
Menurutnya, respons cepat dapat membantu pasien terhindar dari kondisi yang lebih parah.
Kenali Prinsip 3T Saat Stroke Terjadi
“Ada 3T yang harus masyarakat tahu. Pada saat terkena stroke, harus tepat 3T,” kata Indah Aprianti dikutip dari Antara.
Baca Juga: Pentingnya Toilet Training Sejak Dini untuk Cegah Gangguan BAB Saat Dewasa
Tiga langkah tersebut meliputi tepat waktu untuk datang ke rumah sakit, tepat memilih rumah sakit dengan layanan yang sesuai, serta tepat mengetahui bahwa tindakan medis akan segera dilakukan di fasilitas kesehatan tersebut.
Menurutnya, ketepatan dalam tiga hal tersebut sangat berpengaruh terhadap proses pemulihan pasien.
“Dengan datang ke rumah sakit secara tepat, kemudian mengetahui rumah sakit dengan lokasi terdekat, dan tahu tindakan yang tepat, ini akan sangat membantu kondisinya untuk segera recovery,” kata dokter dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta itu.
Golden Time Stroke: Hanya 4,5 Jam
Selain memahami 3T, masyarakat juga perlu mengetahui adanya waktu emas atau golden time dalam penanganan stroke, khususnya stroke akibat penyumbatan pembuluh darah.
Indah menjelaskan, dalam 4,5 jam pertama setelah gejala muncul, pasien harus sudah sampai di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit agar tenaga medis dapat segera memberikan terapi yang dibutuhkan.
“Perhatikan golden time-nya pada 4,5 jam saat mengalami stroke. Segera datang ke rumah sakit, jangan ditunggu sampai terjadi pelumpuhan, jangan ditunggu sampai kondisi sudah berat 1-2 hari di rumah sehingga penanganannya menjadi sulit,” kata Indah.
Penundaan penanganan bisa memperbesar risiko kecacatan permanen hingga memperkecil peluang pasien untuk pulih optimal.
Baca Juga: Dokter Ungkap Bahaya Main HP Saat BAB Bisa Picu Ambeien dan Gangguan Cerna
Tanda Stroke Biasanya Datang Mendadak
Salah satu ciri utama stroke adalah gejalanya muncul secara tiba-tiba. Karena itu, masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan fungsi tubuh yang berlangsung mendadak.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain gangguan bicara atau bicara pelo, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, hingga mendadak tidak mampu mengangkat tangan atau kaki.
Indah menegaskan, kata kunci dari stroke adalah “mendadak”. Jika gejala tersebut muncul, pasien tidak boleh menunggu terlalu lama di rumah.
“Kita tahu pada saat ini ancaman stroke itu nomor satu di Indonesia,” katanya.
Perawatan Pasca-Stroke Juga Tak Kalah Penting
Setelah pasien menjalani perawatan di rumah sakit, tantangan berikutnya adalah proses pemulihan di rumah. Stroke sering kali menyebabkan kecacatan atau kelumpuhan yang membutuhkan perawatan jangka panjang dari keluarga.
Indah menilai keluarga harus terlibat aktif sejak awal agar memahami cara merawat pasien dengan benar, termasuk mencegah komplikasi yang bisa muncul setelah pulang dari rumah sakit.
“Bagaimana perawatan di rumah pada saat pasien pulang ke rumah, apa yang mesti dilakukan dalam proses di rumah nanti. Itu menjadi sangat penting karena kalau tidak, risiko-risiko infeksi saat di rumah atau stroke berulang bisa sangat terjadi,” kata Indah.
Waspadai Stroke Berulang dan Komplikasi Lain
Tiga bulan pertama setelah serangan stroke menjadi masa yang sangat penting karena risiko stroke berulang cukup tinggi. Karena itu, pasien diminta disiplin menjalani kontrol rutin hingga enam bulan dan tetap mengobati faktor risiko yang dimiliki.
Selain stroke berulang, keluarga juga perlu mewaspadai komplikasi lain seperti infeksi paru-paru, lecet pada tubuh akibat terlalu lama berbaring, hingga infeksi saluran kemih.
Baca Juga: Batang Pisang Ternyata Bermanfaat untuk Perawatan Rambut Secara Alami
Indah menekankan bahwa keluarga sebaiknya belajar sejak pasien masih dirawat di rumah sakit, bukan baru mencari tahu saat pasien sudah berada di rumah.
“Sebetulnya kami ingin engagement dari keluarga. Jadi saat keluarga sudah mendampingi pasien, saatnya keluarga mulai belajar bagaimana merawat. Jangan sampai belajarnya saat di rumah, itu nanti sudah kebingungan, bagaimana cara merawat pasien pasca-stroke ketika sudah sampai di rumah, itu yang kita tidak harapkan,” kata Indah.
Dengan memahami tanda stroke sejak awal, memanfaatkan golden time, dan menerapkan prinsip 3T, peluang pemulihan pasien bisa jauh lebih besar sekaligus menekan risiko kecacatan jangka panjang. (*)
Editor : Miftahul Khair