PONTIANAK POST - Nyeri leher sering dianggap sepele, apalagi jika dikira hanya akibat salah posisi tidur. Namun, keluhan yang berlangsung lama dan disertai gejala lain bisa menjadi tanda gangguan yang lebih serius.
’’CERVICAL syndrome adalah kumpulan gejala yang muncul akibat gangguan pada bagian leher, khususnya tulang belakang servikal,’’ jelas Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi Ciputra Hospital Surabaya, dr Nanda Aulya Ramadhan SpKFR. dikutip dari Jawapos.
Ia menambahkan, gejala yang muncul tidak hanya berupa nyeri.
’’Gejalanya bisa berupa nyeri di leher, rasa tebal atau kesemutan di lengan, kelemahan otot, bahkan kulit kering dan pecah di bagian lengan,’’ lanjut dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi Ciputra Hospital Surabaya tersebut.
Baca Juga: Bukan Sekadar Salah Tidur, Nyeri Leher Menjalar Bisa Berujung Kelumpuhan!
Keluhan yang paling sering dirasakan adalah nyeri leher yang menjalar. Kondisi ini berbeda dengan sakit leher biasa.
’’Tapi kalau nyeri menetap, menjalar, atau disertai gejala lain seperti kesemutan atau lemah saat menggenggam, itu yang perlu diwaspadai,’’ lanjut Nanda.
Penyebab cervical syndrome cukup beragam.
Selain faktor degeneratif yang umumnya terjadi pada lansia, gaya hidup modern juga berperan besar. Kebiasaan duduk terlalu lama di depan komputer atau laptop serta penggunaan gawai tanpa jeda menjadi pemicu yang semakin sering ditemukan.
’’Saat ini, makin banyak pasien usia muda datang dengan keluhan yang mirip cervical syndrome,’’ kata dia.
Baca Juga: Bangun Tidur Sakit Leher? Bisa Jadi Ini Gejala Penyakit Berbahaya
Tak hanya itu, faktor stres dan kurangnya aktivitas fisik juga dapat memperparah kondisi. Otot leher menjadi lebih mudah tegang dan kaku ketika tubuh jarang bergerak.
’’Stres membuat otot lebih mudah kaku. Begitu juga jika kita jarang olahraga atau tidak pernah stretching, otot leher jadi cepat tegang,’’ lanjutnya.
Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala yang muncul. Mengenali tanda sejak dini dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih parah, terutama di tengah gaya hidup modern yang serba statis. (*)
Editor : Chairunnisya