Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Vasektomi dan Tubektomi, Pilihan Kontrasepsi Permanen dengan Risiko Rendah

Chairunnisya • Minggu, 3 Mei 2026 | 21:10 WIB
Dokter melakukan tindakan tubektomi pada salah seorang pasien. Masalah kesehatan bisa menjadi alasan untuk menjalani prosedur tersebut. (DOK JAWAPOS)
Dokter melakukan tindakan tubektomi pada salah seorang pasien. Masalah kesehatan bisa menjadi alasan untuk menjalani prosedur tersebut. (DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Pilihan kontrasepsi tidak hanya tersedia bagi perempuan, tetapi juga pria.

Dua metode permanen yang kerap dibahas adalah vasektomi dan tubektomi, yang sama-sama efektif mencegah kehamilan.

Vasektomi adalah prosedur sterilisasi pada pria dengan risiko rendah untuk mencegah kehamilan.

Prosesnya dilakukan dengan memotong dan mengikat saluran vas deferens yang membawa sperma, tanpa menggunakan pisau bedah, sehingga sperma tidak lagi keluar saat ejakulasi.

Baca Juga: Mitos dan Fakta Vasektomi Tubektomi yang Masih Sering Disalahpahami

Sementara itu, tubektomi merupakan prosedur pada perempuan dengan cara memotong atau mengikat tuba falopi, yakni saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim.

’’Dengan terputusnya saluran ini, sel telur tidak dapat bertemu dengan sperma, sehingga pembuahan tidak mungkin terjadi,’’ terang Dr dr Budi Prasetyo SpOG(K), dokter spesialis kebidanan dan kandungan RSUA, dikutip dari Jawapos.

Pelaksanaan vasektomi umumnya tidak memerlukan rawat inap. Efek jangka pendek bisa berupa nyeri atau pembengkakan kecil, namun dalam jangka panjang tergolong aman.

Baca Juga: Memilih Alat Kontrasepsi Sesuai Usia, Kondisi, Risiko, hingga Program Hamil

Yang penting, prosedur ini tidak mengurangi gairah seksual maupun menyebabkan impotensi.

’’Fungsi seksual pria tetap normal. Justru vasektomi memberi kesempatan bagi pria ikut bertanggung jawab atas kontrasepsi, tidak semuanya dibebankan ke perempuan,’’ katanya.

Adapun tubektomi dapat dilakukan melalui beberapa metode, seperti irisan kecil pada perut, operasi sesar, atau teknik laparoskopi yang minimal invasif.

Baca Juga: Keunikan Alat Kontrasepsi yang Jarang Diketahui: Dari Bahan hingga Teknologi

Risiko medisnya serupa dengan tindakan operasi pada umumnya, seperti infeksi atau nyeri pascaoperasi.

Meski demikian, tingkat keberhasilan tubektomi tergolong tinggi. ’’Angka kegagalan tubektomi sangat kecil, hanya sekitar 0,5 kehamilan per 100 perempuan di tahun pertama,’’ ujarnya. (*)

Editor : Chairunnisya
#KB #alat kontrasepsi #kontrasepsi