PONTIANAK POST - Rambut beruban selama ini identik dengan tanda penuaan. Namun, unggahan terbaru dari Adam Prabata di platform X pada (3/5) mengungkap sudut pandang berbeda.
Uban disebut bukan sekadar proses alami usia, melainkan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah kanker kulit.
Uban Bukan Sekadar Tanda Menua
Dalam penjelasannya, Adam Prabata mengungkap bahwa warna rambut berasal dari sel khusus bernama stem cell melanosit yang berada di folikel rambut. Sel ini bertugas memproduksi melanin, pigmen yang menentukan warna rambut.
Baca Juga: Bahaya Protein Berlebih bagi Tubuh: Waspadai 5 Tanda Peringatan Ini
“Ternyata rambut beruban itu bisa jadi mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah kanker kulit, BUKAN sekedar tanda penuaan,” tulisnya.
Temuan ini membuka perspektif baru bahwa perubahan warna rambut bisa memiliki fungsi biologis penting.
Pilih Jadi Uban atau Risiko Kanker
Stem cell melanosit ternyata sangat sensitif terhadap kerusakan DNA, faktor utama yang memicu kanker.
Baca Juga: Pentingnya Protein untuk Massa Otot: Rahasia Hidup Aktif di Segala Usia
“Bila ada kerusakan DNA pada stem cell ini, maka ada 2 pilihan, terus membelah dan menjadi kanker, atau berhenti membelah,” ungkapnya.
Jika sel memilih berhenti membelah, maka produksi melanin ikut berhenti. Akibatnya, rambut kehilangan warna dan berubah menjadi putih atau uban.
“Berhenti membelah, kemudian berhenti memproduksi pigmen, sehingga warna rambut berubah menjadi putih,” sebutnya.
“Trade-Off” Tubuh untuk Bertahan
Fenomena uban dalam konteks ini disebut sebagai bentuk “trade-off” biologis, pengorbanan demi keselamatan tubuh.
“Lebih baik rambut jadi putih daripada berubah jadi tumor ganas,” jelasnya.
Dengan kata lain, tubuh memilih menghentikan potensi bahaya sejak dini, meski harus membayar dengan perubahan penampilan.
Baca Juga: Vasektomi dan Tubektomi, Pilihan Kontrasepsi Permanen dengan Risiko Rendah
Masih Tahap Penelitian Awal
Temuan ini merujuk pada studi ilmiah oleh Mohri berjudul “Antagonistic stem cell fates under stress govern decisions between hair greying and melanoma” (2025).
Namun, penting dicatat bahwa penelitian ini masih dilakukan pada hewan percobaan.
“Sejauh ini penelitiannya baru pada tikus, mudah-mudahan dapat segera dilakukan pada manusia,” sebut dr Adam.
Penjelasan ini memberi sudut pandang baru bahwa uban tidak selalu identik dengan penuaan, tetapi bisa menjadi bagian dari sistem pertahanan tubuh terhadap risiko kanker.
Baca Juga: Mitos dan Fakta Vasektomi Tubektomi yang Masih Sering Disalahpahami
Meski demikian, penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan untuk memastikan apakah mekanisme ini benar-benar berlaku secara luas.
Setidaknya, kini uban bisa dipandang bukan sekadar perubahan estetika, tetapi juga kemungkinan sinyal bahwa tubuh sedang melindungi dirinya. (*)
Editor : Miftahul Khair