Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Waspada Hantavirus di Indonesia: Kenali Gejala, Cara Penularan, dan Pencegahannya

Uray Ronald • Sabtu, 9 Mei 2026 | 23:27 WIB
Ilustrasi hantavirus yang ditularkan melalui hewan pengerat. (DOK JAWA POS)
Ilustrasi hantavirus yang ditularkan melalui hewan pengerat. (DOK JAWA POS)

 

PONTIANAK POST – Ancaman hantavirus sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dilansir dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, sejumlah penelitian menunjukkan virus tersebut telah ditemukan sejak dekade 1980-an dan masih beredar hingga kini.

Studi di berbagai kota besar mencatat seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, sebagian masyarakat diduga pernah terpapar virus tersebut meski tidak terdiagnosis.

Jenis hantavirus yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah virus Seoul. Virus ini dibawa oleh tikus rumah seperti jenis Rattus rattus dan Rattus norvegicus.

Kasusnya tercatat pernah ditemukan di sejumlah kota besar. Wilayah tersebut meliputi Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Denpasar.

Lingkungan padat penduduk dengan sanitasi buruk meningkatkan risiko penyebaran. Kondisi pengelolaan sampah yang tidak optimal juga memicu populasi tikus pembawa virus berkembang biak.

Penularan virus terjadi melalui partikel udara yang terkontaminasi. Sumbernya berasal dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.

Baca Juga: IDAI Tegaskan Virus Hanta Bukan Baru, Penularan Bisa Dicegah dengan PHBS dan Menjaga Kebersihan Lingkungan

Penyakit ini kerap sulit dikenali karena gejalanya menyerupai penyakit lain. Pasien sering mengira mereka terkena demam berdarah, tifoid, atau leptospirosis.

Gejala awalnya berupa demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Jika kondisi memburuk, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan akut yang fatal.

Hingga kini, belum tersedia vaksin atau terapi antivirus spesifik untuk hantavirus. Padahal, pada beberapa jenis tertentu, tingkat kematiannya dilaporkan bisa mencapai 50 persen.

Baca Juga: Kemenkes Perkuat Deteksi Hantavirus, Waspadai Risiko Penularan di Indonesia

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan temuan kasus di tanah air. Indonesia telah melaporkan kasus hantavirus pada manusia sejak tahun 2025 lalu.

Data Kemenkes mencatat 10 kasus konfirmasi hingga 4 Agustus 2025. Kasus tersebut tersebar di Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi Utara, dan NTT.

Hingga kini, pemerintah belum merilis pembaruan data resmi untuk perkembangan kasus sepanjang 2026. Hal ini menuntut kewaspadaan mandiri dari masyarakat.

Tjandra menyoroti angka kematian akibat hantavirus di Indonesia yang mencapai 13 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata Asia yang di bawah 5 persen.

"Memang disebutkan yang meninggal di negara kita ada komorbid. Tetapi di negara lain mungkin juga ada komorbid," ujar Tjandra.

Baca Juga: Heboh Hantavirus, dr Tirta Minta Publik Tak Panik: Ungkap Cara Simpel Mencegahnya

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini menegaskan pentingnya kewaspadaan lintas negara. Mobilitas manusia yang tinggi mempermudah perpindahan penyakit menular antarwilayah.

Karena belum ada obat spesifik, pencegahan menjadi langkah paling utama. Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah secara rutin.

Warga diminta menutup akses masuk tikus dan menggunakan masker saat bersih-bersih. Penggunaan sarung tangan juga sangat disarankan saat menyentuh area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus.(lyn/oni)

Editor : Uray Ronald
#virus Seoul #Hantavirus di Indonesia #gejala Hantavirus #penularan tikus #sanitasi lingkungan.