PONTIANAK POST – Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang terus mendalami kasus hantavirus yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia.
Sejumlah sampel dari korban hingga jaringan tikus yang ditangkap di sekitar permukiman kini dikirim ke laboratorium nasional di Salatiga untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Feria Kowira, mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan epidemiologi guna memastikan sumber penularan virus yang diduga berasal dari hewan pengerat.
“Kami sudah melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengirim spesimen ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan di Salatiga. Tikus-tikus yang ditangkap di sekitar lokasi juga diambil jaringannya untuk diuji di laboratorium,” kata Feria, Selasa (12/5).
Kasus hantavirus di Ketapang menjadi perhatian setelah seorang pasien dinyatakan meninggal dunia usai menjalani perawatan di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Pemerintah memastikan hingga kini belum ditemukan indikasi penularan antarmanusia.
Feria menjelaskan, tim kesehatan telah melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang sempat melakukan kontak dengan korban. Hasil sementara belum menunjukkan adanya warga lain yang terpapar virus tersebut.
“Sampai saat ini penularannya masih dari hewan ke manusia, bukan dari manusia ke manusia,” ujarnya.
Menurut dia, pihaknya masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan jenis tikus yang menjadi pembawa virus. Tikus yang diamankan sementara merupakan tikus yang banyak ditemukan di lingkungan permukiman warga.
Feria mengungkapkan, hantavirus dapat menular melalui urine, kotoran, maupun air liur tikus yang masuk ke tubuh manusia, baik melalui makanan yang terkontaminasi maupun partikel virus yang terhirup.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus. Warga juga diimbau tidak membiarkan makanan dan minuman terbuka.
Selain menjaga sanitasi lingkungan, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, muntah, hingga gangguan pernapasan setelah beraktivitas di lingkungan yang banyak terdapat tikus.
“Segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami panas tinggi yang tidak turun-turun. Penanganan lebih awal bisa meminimalkan risiko,” imbau Feria.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, mengungkapkan pasien positif hantavirus di Kalbar meninggal dunia hanya sehari setelah menjalani perawatan di rumah sakit karena datang dalam kondisi kritis.
Pasien berusia sekitar 50 tahun itu dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang pada awal Maret 2026 setelah mengalami demam tinggi selama beberapa hari. Saat diperiksa, pasien mengalami gangguan serius pada organ tubuh, termasuk fungsi ginjal.
“Pasien datang memang sudah dalam keadaan umum yang jelek. Besoknya meninggal,” kata Harisson.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen yang dikirim ke Kementerian Kesehatan RI, pasien tersebut dinyatakan positif hantavirus. Dugaan sementara, korban terpapar virus setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi urine tikus.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026 terdapat 251 kasus suspek hantavirus di Indonesia dan 23 kasus dinyatakan positif, termasuk satu kasus dari Kalimantan Barat. (afi)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro