PONTIANAK POST - Di tengah berbagai tekanan sosial yang terus bermunculan, menjaga kesehatan mental menjadi kebutuhan penting yang tak bisa diabaikan.
Kemiskinan, bullying, kekerasan dalam rumah tangga, hingga bencana alam dapat meninggalkan beban emosional yang memengaruhi keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa.
Kekerasan Picu Stres
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS menilai semua bentuk kekerasan dapat memicu stres yang berdampak pada kesehatan mental.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-Diam jadi Pemicu Stres dan Merusak Otak, Hindari Mulai Sekarang!
Menurutnya, stres kronik, kurang tidur, emosi yang tidak terkendali, hingga ketergantungan pada stimulan dapat memengaruhi kesehatan otak.
Dampaknya bukan hanya pada suasana hati, tetapi juga pada fungsi kognitif yang mengatur kemampuan berpikir, memahami, mengingat, hingga memecahkan masalah.
Gangguan Fungsi Kognitif
Gangguan pada fungsi kognitif bahkan disebut memiliki hubungan kuat dengan perilaku kekerasan.
Bila gangguan terjadi pada frontal lobe atau otak depan, pengendalian perilaku bisa melemah sehingga memicu tindakan impulsif dan membabi buta.
Perlu Deteksi Dini
Karena itu, deteksi dini penting dilakukan dengan memahami perubahan dalam diri sendiri. Misalnya ketika seseorang mulai mudah tersinggung atau merasakan kesedihan mendalam.
Bila diperlukan, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan deteksi gangguan mental dan tenaga profesional kesehatan.
Baca Juga: Stres karena Grup WhatsApp ? Berikut Cara Elegan untuk Keluar
Ia menegaskan bahwa kesehatan mental tidak cukup hanya dirawat secara medis.
Dukungan keluarga, lingkungan sosial yang sehat, konseling, hingga pola hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan jiwa dan raga. (*)
Editor : Chairunnisya