PONTIANAK POST - Kasus diabetes melitus (DM) dan hipertensi kini semakin marak menyerang kelompok usia produktif atau di bawah 40 tahun. Lonjakan ini membuat pembiayaan kesehatan nasional membengkak.
Diabetes melitus sering dijuluki sebagai mother of diseases karena memicu berbagai komplikasi. Sementara itu, hipertensi dikenal sebagai silent killer karena kerap muncul tanpa gejala awal.
Tren pergeseran usia penderita ini dirasakan langsung oleh Deni, seorang pria yang kini menginjak usia 37 tahun. Dirinya kini harus rutin mengonsumsi obat pengendali tekanan darah setiap hari setelah menjalani medical check-up (MCU).
"Waktu itu habis MCU, pandangan saya sering berkabut," tutur Deni mengenang awal mula dirinya terdeteksi mengidap hipertensi.
Baca Juga: Tidak Hanya Diabetesi, Orang Sehat Juga Perlu Waspadai Camilan Tinggi Karbohidrat
Perjuangan Pengobatan Pasien Kronis Usia Muda
Cerita serupa datang dari Desi, perempuan berusia 36 tahun yang sempat mengabaikan kondisi tubuhnya. Hasil pemeriksaan kesehatan tahun lalu menunjukkan tekanan darah dan kadar kolesterolnya berada di angka yang mengkhawatirkan.
"Menurut suami, kalau tensi tidak terkontrol saya jadi gampang marah," ujar Desi saat diwawancarai Jawapos.
Bagi Desi, tantangan terbesar mengendalikan penyakit ini adalah konsistensi kontrol serta beban biaya medis yang tidak murah. Dalam tiga bulan, biaya pemeriksaan darah, dokter, dan obat bisa mencapai sekitar Rp 2 juta.
"Yang mahal tes darah, bisa Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Belum biaya dokter dan obat," katanya.
Karena tingginya biaya tersebut, Desi kini mulai mempertimbangkan untuk beralih menggunakan layanan jaminan kesehatan BPJS Kesehatan. Dia juga mengaku sering cemas dan takut terkena serangan jantung atau stroke jika kondisinya tidak terkontrol.
Baca Juga: Ini Pilihan Camilan Lebih Aman bagi Penderita Diabetes Menurut Dokter
Lonjakan Kasus Diabetes dan Hipertensi di Fasilitas Kesehatan
Data dari BPJS Kesehatan mencatat jumlah kunjungan pasien DM dan hipertensi usia muda ke FKTP terus meningkat sejak 2021 hingga 2025. Fenomena ini juga diakui oleh para praktisi kesehatan di lapangan.
Pemilik Klinik Sehat Setia Brebes, Munaryo, menyebut bahwa belasan tahun lalu hampir tidak ada pasien prolanis di bawah usia 40 tahun. Namun, dalam lima tahun terakhir situasi berbalik karena pasien usia muda justru mendominasi.
"Sekarang semakin banyak pasien di bawah 40 tahun. Bahkan ada pasien hipertensi dan diabetes melitus yang usianya belum 30 tahun," kata Munaryo.
Baca Juga: Ahli Gizi Ingatkan Bahaya Sering Konsumsi Makanan Asin, Bisa Picu Hipertensi di Usia Produktif
Beban Biaya BPJS Kesehatan yang Kian Membengkak
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihai Pujowaskito, menyatakan keprihatinan mendalam atas tren kenaikan kasus penyakit kronis pada kelompok usia muda ini. Penyakit katastropik menyerap anggaran yang sangat besar.
Sepanjang periode 2014 hingga 2025, total pembiayaan BPJS Kesehatan untuk layanan DM dan hipertensi mencapai Rp 151,4 triliun. Angka fantastis tersebut bahkan belum termasuk biaya penanganan penyakit komplikasi sekunder.
Sebagai contoh, pada tahun 2025 BPJS Kesehatan harus menggelontorkan Rp 17,3 triliun untuk penyakit jantung. Di samping itu, penanganan kasus stroke juga menelan biaya hingga Rp 7,2 triliun.
Baca Juga: Hipertensi Mengintai Tanpa Gejala, Rutin Periksa Tekanan Darah Tekan Risiko Komplikasi
"Penyakit katastropis menyerap sekitar 25 persen pembiayaan JKN," jelas Pujo yang juga merupakan dokter spesialis jantung.
Pujo menekankan pentingnya deteksi dini, pemeriksaan rutin, serta penerapan pola hidup sehat demi menjaga keberlanjutan pembiayaan kesehatan.
Upaya promotif dan preventif menjadi kunci agar masyarakat tetap produktif dan terhindar dari risiko fatal. (lyn/oni)