PONTIANAK POST -Di berbagai daerah, masyarakat memiliki tradisi membakar dupa atau kemenyan saat memasuki waktu Magrib untuk membantu menciptakan suasana religius dan tenang.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, MS, menjelaskan, dupa biasanya dibuat dari campuran bahan aromatik seperti kayu cendana, kayu gaharu, resin benzoin, dan berbagai bahan lain yang mengandung minyak atsiri.
Saat dibakar, minyak atsiri akan menguap dan memenuhi ruangan. Uap tersebut masuk melalui rongga hidung lalu berinteraksi dengan bagian otak yang mengatur berbagai fungsi penting.
Baca Juga: Minyak Sereh, Eukaliptus, dan Citrus Bikin Rumah Lebih Bersih dan Segar
Interaksi tersebut membantu mengatur kembali koordinasi antarbagian otak sehingga kemampuan berkonsentrasi, berpikir, bersikap, bersosialisasi, dan kewaspadaan dapat berjalan lebih seimbang.
Cendana Sang Superstar Aromaterapi
Kayu cendana atau sandalwood mengandung santalol sebagai salah satu komponen utama minyak atsirinya.
Kombinasi kerja berbagai zat tersebut membantu mengendalikan suasana hati dan pikiran. Dalam dunia aromaterapi, minyak cendana mendapat julukan superstar karena efeknya sebagai penenang dan pendukung relaksasi.
Baca Juga: Minyak Atsiri, Rahasia Aroma yang Menenangkan dan Menjaga Daya Tahan Tubuh
Benzoin Sumatera yang Mendunia
Selain cendana, terdapat Styrax benzoin yang menghasilkan resin benzoin sebagai bahan dupa.
Benzoin dari Sumatera dikenal memiliki kualitas baik dan telah lama digunakan untuk membantu meredakan kecemasan, meningkatkan imunitas tubuh, serta mendukung kesehatan saluran pernapasan. (*)
Editor : Chairunnisya