PONTIANAK POST - Terapi wellness tidak bisa bekerja sendirian. Hasil yang optimal biasanya datang ketika perawatan tubuh dibarengi dengan kebiasaan hidup sehat yang dilakukan secara konsisten.
Dilansir dari Jawapos, Building People Through Wellness & Opportunity sekaligus Founder Sukhmaraga Holistic & Wellness dan Sukhmaraga Academy, Syafrudin mengingatkan bahwa pijat limfatik bukan terapi instan yang langsung memberikan perubahan drastis dalam satu kali sesi.
Perlu Didukung Kebiasaan Sehat
Menurut Syafrudin, manfaat terapi akan terasa lebih optimal jika dibarengi pola hidup sehat.
Baca Juga: Mengenal Pijat Limfatik, Terapi Lembut yang Kini Banyak Diminati
’’Saya selalu sampaikan bahwa pijat limfatik bukan sulap instan. Hasil terbaik biasanya terasa kalau dibarengi cukup minum, tidur cukup, aktif bergerak, dan mengurangi stres,’’ katanya.
Untuk frekuensi terapi, kebutuhan setiap orang berbeda. Ada yang menjalani satu hingga dua kali dalam sebulan sebagai maintenance tubuh, sementara sebagian lainnya memilih lebih rutin saat menjalani recovery atau program wellness tertentu.
Konsultasi Kondisi Kesehatan Terlebih Dahulu
Meski umumnya aman, Syafrudin mengingatkan bahwa pijat limfatik tidak boleh dilakukan sembarangan.
Baca Juga: Sering Lelah dan Badan Terasa Berat? Bisa Jadi Sistem Limfatik Kurang Optimal
Orang dengan kondisi tertentu seperti infeksi akut, demam, gangguan jantung, gangguan ginjal berat, hingga pembekuan darah perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.
’’Jadi, penting menyampaikan kondisi kesehatannya dengan jujur supaya terapi bisa disesuaikan dengan aman dan nyaman,’’ tegasnya.
Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah
Baca Juga: 6 Penyebab Tubuh Lelah Saat Bangun Tidur dan Cara Mengatasinya
Pijat limfatik sebenarnya juga dapat dilakukan secara mandiri melalui gerakan dasar self lymphatic massage. Namun, teknik yang dilakukan praktisi memiliki perbedaan karena membutuhkan pemahaman mengenai anatomi tubuh dan arah jalur limfatik.
Karena itu, pemilihan terapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi kesehatan masing-masing individu. (*)
Editor : Chairunnisya