PONTIANAK POST - Rasa kecut dan pahit sering kali tidak sepopuler rasa manis, tetapi keduanya punya kaitan erat dengan proses pencernaan.
Dalam bahan alam, sensasi rasa bukan sekadar soal selera, melainkan juga bagian dari mekanisme tubuh dalam menyiapkan saluran cerna.
Baca Juga: Lidah Tak Lagi Peka? Berikut Beberapa Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, mencontohkan jeruk nipis dan sambiloto sebagai bahan alam dengan rasa yang kuat dan efek yang berkaitan dengan pencernaan.
Jeruk Nipis Memicu Air Ludah dan Sensasi Segar
Jeruk nipis memberikan rasa kecut karena kandungan utama asam sitrat yang mengaktifkan reseptor saat dikonsumsi. Hal itu memacu peningkatan produksi air ludah yang membantu mengencerkan keasaman sebelum makanan ditelan.
Baca Juga: Terlalu Sering Makan Manis Bisa Mengganggu Kemampuan Mengecap
Setelah itu, timbul sinyal ke otak yang menyiapkan sekresi cairan cerna lain.
Selain rasa kecut, jeruk nipis juga memiliki kandungan minyak esensial pada kulit dan jus. Bau zat ini berkontribusi pada timbulnya sensasi kesegaran yang membuat jeruk nipis terasa lebih menstimulasi.
Meski demikian, Mangestuti mengingatkan agar tetap berhati-hati. Rasa masam berlebihan dapat menimbulkan reaksi merugikan yang tidak diharapkan, termasuk kerusakan lapisan pelindung gigi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Menikmati Rasa, Kuncup Pengecap Bantu Tubuh Cerna Makanan
Sambiloto Pahit, tetapi Berkaitan dengan Kenyamanan Cerna
Mangestuti juga menyoroti sambiloto, daun pepaya, dan pare sebagai contoh bahan alam yang berasa pahit. Agar bisa dirasakan, zat pahit harus larut dalam air ludah sebelum bereaksi dengan reseptor pada lidah.
Setelah itu, reseptor mengirim sinyal ke otak yang memicu aktivasi saluran cerna.
Responsnya berupa peningkatan pembentukan air ludah, produksi asam lambung untuk mencerna protein, enzim pencernaan untuk memecah makanan lebih efisien, hingga stimulasi sekresi cairan empedu untuk membantu mencerna lemak.
Peneliti juga menemukan reseptor zat pahit pada lambung, usus, pankreas, dan sel imun. Zat pahit memicu pembentukan hormon yang terlibat pada proses pencernaan, pengaturan gula darah, dan timbulnya rasa kenyang.
Sambiloto termasuk salah satu herbal pahit yang populer di Indonesia. Dalam beberapa detik setelah mengonsumsi daunnya, zat kandungan andrografolida menyentuh lidah dan menyebabkan teraktivasinya reseptor pahit yang mengirimkan sinyal ke otak.
Baca Juga: Ramai Tren Fibremaxxing, Ahli Gizi Ingatkan Serat Berlebih Bisa Ganggu Pencernaan
Beberapa menit kemudian terjadi peningkatan air ludah, sekresi cairan pencerna, serta pengeluaran cairan empedu yang menandakan kesiapan proses pencernaan.
Begitu ditelan, andrografolid dan zat kandungan lain diserap melalui usus dan menunjukkan aktivitas biologik, termasuk pengaturan imunitas, efek antiradang, dan antioksidan.
Tergantung kepekaan seseorang, secara tradisional mengonsumsi sambiloto membuat orang merasakan kondisi lebih ringan, nafsu makan meningkat, dan kenyamanan saluran cerna. (*)
Editor : Chairunnisya