PONTIANAK POST - Olahraga memang menyehatkan, tetapi situasi darurat tetap bisa terjadi kapan saja.
Ketika seseorang tiba-tiba tidak sadarkan diri di lapangan atau tempat olahraga, respons cepat dari orang di sekitarnya dapat menjadi penentu keselamatan.
Dilansir dari Jawapos, dokter spesialis jantung National Hospital Surabaya, dr Fery Budiman Santoso SpJP, menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya memahami langkah dasar pertolongan pertama apabila menemukan korban yang mendadak kolaps.
Baca Juga: Gejala Serangan Jantung Saat Olahraga Tidak Selalu Nyeri Dada, Kenali Tandanya
Periksa Denyut Nadi Terlebih Dahulu
Menurut Fery, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memeriksa denyut nadi korban di bagian leher. Apabila denyut nadi tidak teraba, kondisi tersebut harus segera dianggap sebagai keadaan darurat yang membutuhkan tindakan cepat.
"Jika seseorang tiba-tiba tidak sadar, langkah awal yang bisa dilakukan adalah memeriksa denyut nadi di leher," katanya.
Pemeriksaan sederhana tersebut membantu menentukan apakah korban membutuhkan tindakan resusitasi jantung paru (RJP).
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Bermain Padel Bukan karena Olahraganya Semata, Ini Penjelasannya
Segera Lakukan Resusitasi Jantung Paru
Apabila denyut nadi tidak ditemukan, Fery menyarankan agar pertolongan tidak ditunda.
Penolong dapat segera melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dengan memberikan 30 kali pijatan dada yang kemudian dilanjutkan dengan dua kali bantuan napas.
Langkah tersebut merupakan bagian dari bantuan hidup dasar (basic life support) yang bertujuan mempertahankan sirkulasi darah dan suplai oksigen ke organ-organ vital sampai korban mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: 80 Persen Serangan Jantung Bisa Dicegah, dr Adam Prabata Bagikan Cara Sederhana Ini
"Segera lakukan resusitasi jantung paru (RJP) dengan 30 kali pijatan dada dan dua kali bantuan napas," ungkapnya.
Peluang Selamat Bisa Meningkat Berkali-kali Lipat
Menurut Fery, tindakan pertolongan pertama yang dilakukan dengan benar memberikan dampak besar terhadap peluang keselamatan korban.
"Bantuan hidup dasar (basic life support) yang dilakukan dengan benar bisa meningkatkan peluang selamat hingga tiga sampai lima kali lipat," paparnya.
Karena itu, masyarakat tidak perlu hanya menunggu tenaga medis datang apabila menemukan korban dalam kondisi henti jantung mendadak.
Baca Juga: Mengapa Banyak Serangan Jantung Terjadi di Kamar Mandi? Cek Faktanya
Respons cepat dari orang-orang di sekitar justru menjadi bagian penting dalam rantai penyelamatan.
Jangan Panik Saat Menghadapi Keadaan Darurat
Fery mengingatkan bahwa kepanikan sering kali membuat pertolongan terlambat diberikan. Padahal, setiap menit sangat berharga ketika seseorang mengalami henti jantung.
Karena itu, siapa pun yang berada di lokasi diharapkan tetap tenang, segera memeriksa kondisi korban, lalu memberikan bantuan hidup dasar sesuai kemampuan sambil menunggu penanganan lanjutan.
Baca Juga: Waspada! Ini 6 Tanda Serangan Jantung yang Sering Diabaikan dan Bisa Berakibat Fatal
Semakin cepat tindakan dilakukan, semakin besar peluang korban untuk bertahan.
Pencegahan Tetap Menjadi Prioritas
Meski memahami pertolongan pertama sangat penting, Fery menegaskan bahwa upaya pencegahan tetap menjadi langkah terbaik.
Menurutnya, setiap orang perlu mengenali kondisi kesehatannya sebelum melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi. Olahraga tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan apabila dilakukan secara terukur dan sesuai kemampuan tubuh.
Baca Juga: Bahaya Serangan Jantung: Kenali Gejala Serangan Jantung Sebelum Terlambat
Dengan memahami tanda bahaya sekaligus mengetahui langkah pertolongan pertama, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi kondisi darurat apabila sewaktu-waktu terjadi saat berolahraga.
Pengetahuan sederhana mengenai bantuan hidup dasar bukan hanya berguna bagi tenaga kesehatan, tetapi juga dapat menjadi bekal penting bagi siapa saja untuk membantu menyelamatkan nyawa orang lain. (*)
Editor : Chairunnisya