PONTIANAK POST - Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun.
Salah satunya adalah daun ungu, tanaman herbal yang dikenal di berbagai daerah dengan nama berbeda.
Kini, tanaman tersebut tidak hanya digunakan dalam pengobatan tradisional, tetapi juga menjadi objek penelitian ilmiah karena berbagai potensi manfaat kesehatannya.
Baca Juga: Ekstrak Daun Ungu Berpotensi Melawan Bakteri Penyebab Karies dan Radang Gusi
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan bahwa daun ungu telah lama dimanfaatkan masyarakat dan terus dikaji untuk mengetahui dasar ilmiah dari berbagai khasiat yang selama ini dipercaya.
Memiliki Banyak Nama Daerah
Daun ungu dikenal dengan berbagai sebutan di Indonesia.
Tanaman ini disebut daun wungu, handeuleum di Sunda, dangora di Ambon, kabi-kabi di Ternate, demung, tulak, maupun daun temen-temen.
Baca Juga: Penelitian Indonesia Ungkap Potensi Daun Ungu Membantu Mengatasi Wasir
Nama ilmiahnya adalah Graptophyllum pictum dari keluarga Acanthaceae yang berasal dari Papua Nugini dan kini telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tanaman ini memiliki tinggi hingga sekitar dua meter. Daunnya berukuran sekitar 25 x 11 sentimeter dengan permukaan mengilap.
Bunganya berwarna merah keunguan, sedangkan buahnya berwarna merah kecokelatan.
Baca Juga: Daun Kelor Berpotensi Jadi Pangan Fungsional Asal Diolah dengan Tepat
Selain jenis berdaun merah gelap, terdapat pula varietas variegata yang memiliki perpaduan warna putih dan hijau.
Bagian tanaman yang dimanfaatkan meliputi daun, bunga, dan buah.
Digunakan dalam Berbagai Pengobatan Tradisional
Prof Mangestuti Agil menguraikan bahwa berbagai manfaat daun ungu telah dicatat dalam ulasan peneliti Indonesia, termasuk yang disebutkan dalam Manuskrip Herbarium Amboinense (2021).
Tanaman ini digunakan untuk membantu mengatasi bengkak dan bisul pada payudara, seperti yang kerap dialami ibu menyusui.
Di Kuba, daun ungu juga tercatat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi pembengkakan serta penyembuhan berbagai jenis luka di permukaan kulit.
Sementara di Indonesia terdapat catatan pemanfaatannya untuk membantu mengatasi pembengkakan tonsil serta sebagai antirematik.
Terus Menjadi Objek Penelitian
Selain dikenal sebagai tanaman obat tradisional untuk wasir, daun ungu juga mulai banyak diteliti pada bidang kesehatan lainnya.
Baca Juga: Penelitian Ungkap Daun Kelor Berpotensi Membantu Ibu Menyusui Produksi ASI Lebih Optimal
Menurut Prof Mangestuti Agil, penelitian mengenai daun ungu mencakup potensi antiradang, antioksidan, kesehatan gigi dan rongga mulut, hingga perlindungan terhadap fungsi ginjal.
Berbagai penelitian tersebut bertujuan memahami mekanisme kerja senyawa aktif yang terkandung dalam daun ungu sehingga pemanfaatannya memiliki dasar ilmiah yang semakin kuat.
Berbagai kajian ilmiah juga menunjukkan bahwa Graptophyllum pictum memiliki aktivitas farmakologi yang luas, meski masih memerlukan penelitian lanjutan untuk memperkuat bukti klinis.
Baca Juga: Mengapa Daun Kelor Disebut Superfood? Ini Penjelasan Prof Mangestuti Agil
Peluang Pengembangan Tanaman Obat Indonesia
Menurut Prof Mangestuti Agil, hasil-hasil penelitian yang terus berkembang menunjukkan bahwa daun ungu merupakan salah satu tanaman herbal Indonesia yang memiliki prospek untuk terus dikaji.
Meski demikian, seluruh potensi tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan agar manfaatnya dapat dipahami secara lebih mendalam.
Dengan kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia, penelitian terhadap daun ungu diharapkan dapat memperkuat pengembangan obat berbasis bahan alam sekaligus memperkaya pemanfaatan tanaman herbal yang telah lama menjadi bagian dari pengobatan tradisional masyarakat. (*)
Editor : Chairunnisya