PONTIANAK POST – Kabut asap menjadi salah satu ancaman lingkungan yang kerap muncul saat musim kemarau dan kebakaran hutan maupun lahan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Paparan kabut asap dalam waktu singkat maupun jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit. Karena itu, masyarakat perlu memahami dampak kesehatan yang ditimbulkan agar dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Kabut Asap dan Ancaman bagi Sistem Pernapasan
Baca Juga: Kabut Asap Memburuk di Sarawak, Orang Tua Diminta Batasi Aktivitas Anak di Luar
Salah satu dampak paling umum dari kabut asap adalah gangguan pada sistem pernapasan. Partikel halus yang terkandung dalam asap dapat masuk ke saluran napas hingga paru-paru dan memicu berbagai keluhan kesehatan.
Dilansir dari Halodoc, paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejalanya meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga demam.
Bagi penderita asma, kondisi ini juga dapat memperburuk gejala seperti sesak napas, dada terasa berat, dan bunyi mengi saat bernapas. Selain itu, kabut asap berpotensi memicu bronkitis atau peradangan pada saluran pernapasan utama yang menuju paru-paru.
Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Pontianak, Warga Diminta Waspada
Tidak hanya itu, penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) juga perlu lebih waspada. Paparan partikel polutan dapat memperparah kondisi yang sudah ada sehingga menyebabkan gangguan pernapasan yang lebih berat.
Mata Merah dan Iritasi Akibat Paparan Asap
Selain menyerang sistem pernapasan, kabut asap juga dapat mengganggu kesehatan mata. Partikel-partikel kecil yang beterbangan di udara dapat langsung mengenai permukaan mata dan menyebabkan iritasi.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Ganggu Pelayaran, KSOP Sampit Minta Nakhoda Tunda Keberangkatan
Akibatnya, seseorang dapat mengalami mata merah, perih, gatal, hingga berair. Jika paparan berlangsung terus-menerus tanpa perlindungan yang memadai, keluhan tersebut dapat semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.
Risiko Gangguan Jantung yang Sering Terlupakan
Banyak orang menganggap dampak kabut asap hanya berkaitan dengan paru-paru. Padahal, partikel halus berukuran sangat kecil dapat masuk ke aliran darah dan memengaruhi sistem kardiovaskular.
Menurut informasi yang dipublikasikan Halodoc, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan jantung, termasuk memperburuk penyakit jantung yang sudah ada. Pada kelompok rentan, paparan polusi udara yang tinggi juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung.
Menurunkan Kualitas Hidup dan Produktivitas
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan secara fisik. Aktivitas sehari-hari juga dapat terganggu karena masyarakat cenderung membatasi kegiatan di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
Kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas, mengurangi kenyamanan beraktivitas, hingga memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan jangka panjang. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak tersebut.
Pentingnya Mencegah Paparan Sejak Dini
Meski kabut asap sering dikaitkan dengan musim tertentu, ancamannya terhadap kesehatan bersifat relevan sepanjang waktu. Karena itu, masyarakat disarankan untuk selalu memperhatikan kualitas udara, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi paparan polusi ketika kondisi udara memburuk.
Baca Juga: Kabut Asap
Memahami dampak kabut asap menjadi langkah awal untuk melindungi diri dan keluarga dari berbagai risiko kesehatan yang dapat muncul akibat polusi udara.
Editor : Silvina