Kenali Tanda Heat Exhaustion dan Heat Stroke Saat Beraktivitas di Cuaca Panas

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:47 WIB
Arsip Foto - Warga menggunakan payung saat cuaca panas terik meliputi area Bundaran HI, Jakarta, Rabu (15/10/2025). (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanudin)
Arsip Foto - Warga menggunakan payung saat cuaca panas terik meliputi area Bundaran HI, Jakarta, Rabu (15/10/2025). (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanudin)

PONTIANAK POST - Dokter spesialis penyakit dalam Faisal Parlindungan dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menjelaskan tanda-tanda heat exhaustion dan heat stroke, dua gangguan yang dapat terjadi akibat paparan panas dan aktivitas fisik dalam waktu lama.

Dikutip dari ANTARA, Kamis, Faisal Parlindungan, Sp.PD mengatakan heat exhaustion atau kelelahan akibat panas terjadi ketika tubuh kehilangan banyak cairan dan garam akibat paparan panas serta aktivitas fisik.

Kondisi tersebut dapat ditandai dengan banyak berkeringat, haus, lemas, pusing, sakit kepala, mual atau muntah, serta kram otot.

Sementara itu, heat stroke atau serangan panas merupakan kondisi yang lebih berat. Gangguan tersebut terjadi ketika tubuh gagal mengatur suhu sehingga suhu tubuh meningkat sangat tinggi dan berpotensi menyebabkan gangguan fungsi organ.

Menurut informasi di laman resmi Kementerian Kesehatan, salah satu tanda heat stroke adalah peningkatan suhu tubuh hingga lebih dari 40 derajat Celsius.

"Pada heat stroke, mulai muncul gangguan fungsi otak. Penderitanya dapat mengalami kebingungan, sulit berkomunikasi, perilaku tidak normal, bicara tidak jelas, kejang, hingga penurunan kesadaran," kata Faisal.

Ia menambahkan, penurunan kesadaran menjadi salah satu gejala utama yang membedakan heat stroke dengan heat exhaustion.

Heat Stroke Membutuhkan Penanganan Segera

Faisal menegaskan, heat stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera untuk menurunkan suhu tubuh dan mencegah gangguan organ.

Serangan panas dapat memicu gangguan pada otak, ginjal, hati, dan otot, serta menimbulkan masalah pada sistem pembekuan darah apabila tidak segera ditangani.

Karena itu, Faisal mengingatkan masyarakat untuk segera menghentikan aktivitas dan berpindah ke tempat yang lebih sejuk ketika mulai mengalami gejala seperti pusing, lemas, mual, sakit kepala, atau kram otot.

Penanganan dampak paparan panas juga dapat dilakukan dengan kompres dingin pada area leher, ketiak, dan selangkangan untuk membantu menurunkan suhu tubuh.

Selain itu, kebutuhan cairan perlu dipenuhi dengan memperbanyak minum air putih guna mencegah dehidrasi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah mengimbau masyarakat, terutama mereka yang harus beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan, untuk mewaspadai risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas selama musim kemarau. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
heat exhaustion heat stroke cuaca panas gejala