PONTIANAK POST - Kanker pada dasarnya berkaitan dengan perubahan atau mutasi pada sel tubuh. Setiap hari, tubuh manusia memproduksi miliaran sel baru untuk menggantikan sel yang telah mati.
Proses tersebut dikendalikan oleh DNA, yang dapat diibaratkan sebagai buku petunjuk bagi sel untuk tumbuh dan menjalankan fungsinya. Ketika sel baru terbentuk, DNA harus disalin agar karakteristik sel tetap sesuai.
Namun, proses penyalinan DNA tidak selalu berlangsung sempurna. Kesalahan dapat terjadi sehingga menghasilkan perubahan pada sel yang disebut mutasi. Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme untuk mendeteksi dan memperbaiki kerusakan tersebut. Sel yang mengalami kerusakan berat bahkan dapat diperintahkan untuk menghancurkan dirinya sendiri.
Baca Juga: Cegah Kanker Kulit dengan Perlindungan Sinar Matahari dan Pemeriksaan Rutin
Masalah muncul ketika mutasi terjadi pada bagian yang mengatur pertumbuhan dan pembelahan sel. Sel kemudian dapat berkembang biak tanpa kendali. Kondisi inilah yang menjadi salah satu dasar terjadinya kanker.
Mutasi Sel Bisa Terjadi Selama Bertahun-tahun
Pembentukan kumpulan sel kanker umumnya tidak berlangsung secara instan. Prosesnya dapat terjadi selama bertahun-tahun akibat akumulasi berbagai kerusakan dan perubahan pada sel.
Itulah salah satu alasan mengapa kanker lebih sering ditemukan pada orang yang lebih tua dibandingkan bayi. Meski demikian, sejumlah faktor dapat meningkatkan kerusakan sel dan memperbesar risiko terjadinya kanker.
Salah satunya adalah paparan sinar ultraviolet dari matahari. Radiasi ultraviolet dapat merusak DNA sel kulit. Riwayat kulit terbakar akibat sinar matahari berulang kali juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kulit.
Baca Juga: Kenali Tanda Heat Exhaustion dan Heat Stroke Saat Beraktivitas di Cuaca Panas
Paparan ultraviolet dapat menjadi lebih tinggi di wilayah dengan kondisi tertentu, termasuk tempat yang berada pada ketinggian lebih tinggi. Sementara itu, beberapa senyawa yang terdapat dalam tanaman tertentu, termasuk kelompok jeruk, dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar ultraviolet.
Karena itu, paparan sinar matahari berlebihan, khususnya hingga menyebabkan kulit terbakar, merupakan salah satu hal yang perlu dihindari.
Paparan Bahan Kimia dan Polusi Juga Perlu Diwaspadai
Risiko kanker juga berkaitan dengan paparan sejumlah bahan kimia dan polutan. Penggunaan wadah makanan tertentu secara tidak tepat, paparan bahan dari plastik, maupun lingkungan kerja yang mengandung zat berbahaya dapat menjadi perhatian dalam konteks kesehatan.
Baca Juga: Kelompok Rentan Diminta Waspadai Risiko Heat Stroke Saat Cuaca Panas
Paparan asap dari proses pengelasan juga perlu diperhatikan karena asap las dapat mengandung berbagai partikel dan bahan kimia yang berbahaya apabila terhirup dalam jumlah tertentu.
Berbagai penelitian telah mengaitkan sejumlah zat dan paparan lingkungan dengan peningkatan risiko kanker. Karena itu, perlindungan diri dan penerapan keselamatan kerja menjadi penting bagi orang yang bekerja di lingkungan dengan potensi paparan tersebut.
Radiasi Berenergi Tinggi Dapat Merusak DNA
Radiasi juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerusakan DNA. Namun, tidak semua jenis radiasi memiliki karakteristik dan risiko yang sama.
Radiasi berenergi tinggi, seperti radiasi pengion, memiliki energi yang cukup untuk merusak struktur DNA. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan perubahan pada sel dan meningkatkan risiko terjadinya kanker.
Baca Juga: Waspada ! Kabut Asap Bisa Picu ISPA hingga Gangguan Jantung, Ini Penjelasannya
Berbeda dengan radiasi pengion, paparan dari perangkat sehari-hari seperti telepon seluler, router Wi-Fi, atau perangkat Bluetooth termasuk dalam kategori radiasi nonpengion dengan energi yang jauh lebih rendah.
Paparan radiasi pengion dalam tingkat tinggi merupakan kondisi yang perlu dihindari. Lingkungan dengan kontaminasi nuklir atau sumber radiasi ekstrem dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang serius dan membutuhkan penanganan khusus.
Atmosfer Melindungi Bumi dari Radiasi Kosmik
Radiasi berenergi tinggi juga terdapat di luar angkasa dalam bentuk, antara lain, sinar kosmik. Namun, manusia di permukaan Bumi memperoleh perlindungan dari atmosfer dan medan magnet Bumi yang membantu mengurangi paparan radiasi tersebut.
Baca Juga: Kabut Asap Mengancam Kesehatan, Ini 7 Langkah Penting untuk Melindungi Diri
Kondisinya berbeda bagi manusia yang berada di luar atmosfer tanpa perlindungan memadai. Paparan radiasi kosmik dapat menjadi salah satu tantangan kesehatan dalam perjalanan luar angkasa.
Sementara itu, lingkungan di sekitar objek astronomi ekstrem seperti lubang hitam memiliki kondisi radiasi yang jauh lebih ekstrem. Namun, situasi tersebut tentu bukan merupakan konteks realistis dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Lingkungan dengan Polusi Tinggi Dapat Meningkatkan Risiko
Paparan polusi lingkungan dalam jangka panjang juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko kanker. Tinggal di sekitar sumber limbah atau lingkungan yang terus-menerus terpapar polutan dapat meningkatkan risiko kesehatan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan tempat tinggal dan bekerja turut berperan dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Namun, tingginya angka kasus kanker di suatu negara tidak selalu berarti lingkungannya lebih berbahaya. Faktor lain seperti sistem deteksi, akses layanan kesehatan, pencatatan kasus, serta keberhasilan pengobatan juga memengaruhi angka kasus dan kematian.
Deteksi kanker yang lebih baik dapat membuat lebih banyak kasus ditemukan. Di sisi lain, diagnosis yang terlambat dapat menyebabkan kanker diketahui ketika penyakit sudah memasuki tahap yang lebih sulit ditangani.
Mengapa Pengobatan Kanker Tidak Bisa Disamaratakan?
Tidak ada satu metode pengobatan yang dapat diterapkan secara sama untuk seluruh penderita kanker. Penyakit ini terdiri atas berbagai jenis dengan lokasi, karakteristik, dan perubahan genetik yang berbeda.
Bahkan, sel kanker dalam satu tumor dapat memiliki mutasi yang beragam. Karena itu, pilihan pengobatan perlu disesuaikan dengan jenis dan kondisi kanker masing-masing pasien.
Pengobatan yang tidak tepat juga dapat memberikan tekanan selektif terhadap sel kanker sehingga sebagian sel yang lebih tahan terhadap terapi dapat bertahan dan berkembang.
Meski demikian, perkembangan ilmu kedokteran terus menghasilkan pendekatan baru dalam menangani kanker, termasuk imunoterapi.
Imunoterapi Memanfaatkan Sistem Kekebalan Tubuh
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker yang mampu menyamarkan keberadaannya.
Sel imun memiliki mekanisme tertentu yang mengatur kapan sel tersebut menyerang atau tidak menyerang sel tubuh. Sel kanker dapat memanfaatkan mekanisme tersebut untuk menghindari serangan sistem imun.
Karena itu, para peneliti mengembangkan terapi yang dapat membantu mengaktifkan kembali respons sistem kekebalan terhadap kanker. Pendekatan ini antara lain dilakukan melalui obat yang menghambat mekanisme tertentu yang digunakan kanker untuk menghindari sistem imun.
Pendekatan lain adalah terapi sel, yaitu mengambil sel imun pasien, memodifikasinya agar mampu mengenali target kanker tertentu, kemudian memasukkannya kembali ke tubuh pasien.
Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Pada akhirnya, sejumlah faktor risiko kanker sebenarnya dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari.
Menghindari paparan sinar ultraviolet berlebihan, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, serta menghindari paparan bahan berbahaya merupakan beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan risiko.
Merokok menjadi salah satu faktor risiko utama, khususnya pada kanker paru-paru. Karena itu, berhenti merokok merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Kanker memang tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya karena terdapat faktor genetik, usia, dan faktor lain yang berada di luar kendali manusia. Namun, mengurangi faktor risiko yang dapat dikendalikan tetap menjadi pilihan yang lebih baik daripada sengaja meningkatkan paparan terhadap hal-hal berbahaya.
Pada akhirnya, pilihan untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat berada di tangan masing-masing individu. (*)
Editor : Rafael B. Junior